Sehari di Gili Trawangan

Jam 12 siang perahu yang saya tumpangi dari Pelabuhan Bangsal menghempas pantai dan pasir putih di Pantai Gili Trawangan. Siang yang terik saat itu seolah ikut terhempas, terbawa sepoi angin laut, mata langsung dimanjakan oleh langit biru dan warna laut yang turquoise, sedapnya…

gili-trawangan-(3)Sandal saya tanggalkan, kaki-kaki langsung merasakan kesegaran ketika turun dari perahu, air pantai yang saya injak membentuk cipratan kecil ketika kaki-kaki beradu dengan air dan pasir pantai. Dermaga terlihat ramai siang itu, senyum saya disambut bapak-bapak yang menawarkan jasa Cidomo menuju penginapan tapi saya memilih jalan kaki saja karena menurut pihak penginapan lokasi dari dermaga ke penginapan sangat dekat, apa lagi ini pulau yang kecil mending saya nikmati begini saja. Benar saja tak butuh waktu 5 menit saya sudah sampai di Bale Sasak, letaknya di belakang pasar malam sekaligus pasar seninya pulau.

Tas kamera menyilang di bahu sementara kamera tak beranjak dari leher, tiga hari ini leher terasa lebih pegal dari biasanya, sudah 3 hari ini dia memikul berat kamera, hanya terlepas ketika sedang makan dan tidur dimalam hari saja. Perjalanan dua hari di Lombok akan saya ceritakan di postingan selanjutnya. Saat ini sedang bergairah untuk menceritakan sehari di Gili Trawangan dulu. Dengan kondisi perut yang sudah kenyang karena tadi sudah makan siang di salah satu rumah makan di Senggigi sebelum menuju ke dermaga Bangsal. Berbekal sepeda butut pinjaman dari penginapan saya sudah siap menjelajah pesisir pulau. Dasar memang jarang olah raga, belum beranjak jauh dari penginapan nafas sudah ngos-ngosan, hahaha… Penyelusuran dimulai dari sisi timur pulau, jalanan tak semuanya beraspal mulus, sesekali melalui gundukan pasir, paving yang berantakan dan terkadang jalanan bagus kalau melewati restaurant atau hotel mewah saja. Mestinya pemerintah Lombok memperhatikan hal ini, mengingat pulau ini adalah salah satu destinasi terfavorit wisatawan, baik asing maupun domestik.

Cafe dan warung-warung kecil berjejer padat mengapit jalanan hanya hotel dan penginapan yang selalu berada disisi kanan jalan. Lalu lalang wisatawan dimana-mana, bersepeda, naik Cidomo, malah kebanyakan berjalan kaki. Tak ada polusi kendaraan disini, bahkan bebas dari kriminalitas semacam copet atau maling, kata penduduk setempat yang sempat saya ajak ngobrol dikapal kalo ketahuan mencuri bakal diarak keliling pulau dan ada peraturan adat yang melarang mereka (para pencuri) untuk kembali kepulau ini seumur hidup, keren kan?! Dijamin aman katanya. Peraturan itu sudah berlaku dari dulu, namun tak lantas saya berani membiarkan barang-barang bawaan saya tergeletak begitu saja, tidak ada salahnya untuk waspada dan menjaga segala kemungkinan.

Bahkan tak lebih dari satu setengah jam saya untuk bisa mengelilingi pulau, tadinya saya pikir bisa lebih mengingat sempat turun dari sepeda beberapa kali hanya untuk melihat susana pantai yang terhalang dari pepohonan atau gundukan pasir yang lebih tinggi dari jalan sambil mengambil beberapa foto, dan setelah puas berkeliling saya kembali kepenginapan untuk istirahat sejenak.

Jam 4 sore saya sudah memacu pedal lagi untuk menuju sisi selatan pantai yang bernama sunset point, namun kali ini saya tidak memakai sepeda yang disediakan penginapan, selain tak berisi rem, sepeda yang ada bannya juga sudah rata-rata kempes. Tak ada pilihan selain sewa di penyewaan sepeda yang banyak ada di jalan utama. Entah kenapa padahal sepeda yang saya sewa itu terlihat baru dan masih mulus namun diujung jalan sana ketika saya memindahkan laju keposisi yang lebih santai tiba-tiba rantai terlepas dan terkunci luji sepeda, 15 menit waktu saya terbuang karenanya sementara matahari sudah semakin merendah hampir-hampir hilang ditelan awan dan horizon, arrrrggggg… Tak bisa berbuat banyak, tiba dipantai sunset point orang-orang sudah mulai pulang meski ada beberapa yang masih duduk dan saya tak bisa mengabadikan sunset dengan leluasa, sepeda sialan!

Jam 7.30 malam saya langsung ke pasar malam untuk kuliner street food, namanya juga pasar malam ramainya, ampun dah! Mulai dari aneka lalapan, nasi campur, olahan seafood hingga aneka kue basah ada disini, berjejer, berasap dan berbagai bau makanan bercampur aduk dengan parfum pengunjungnya. Saya memilih makan malam disini karena hanya disini harga makanan masih terbilang murah ketimbang harga makanan di restaurant dan cafe-cafe yang berjejer dipinggir pesisir pantai, buat traveler kere seperti saya makanan disinipun terhitung masih mahal, rata-rata perporsi makanan Rp 20.000 itupun hanya dengan satu macam lauk. Duit dikantong sudah menipis, maklum dua hari sebelumnya sudah tersedot jalan-jalan di Lombok, hehehe… Semua meja makan yang tersedia hampir penuh terisi, untungnya saya antri di sebuah warung yang masih sepi pembeli, masih tersedia 4 kursi kosong. Antara kecapean, kelaparan dan porsi makan yang sedikit, saya masih lapar saudara-saudara, hahaha… Lanjut kuliner kue-kue basah khas Nusantara bercampur dengan kue-kue western semacam donat dan kawan-kawanya yang harganya perbiji Rp. 5.000 padahal kalo di Lombok daratan harganya tak lebih dari dua ribuan.

Perut kenyang, mandi dan kembali ke pantai lagi. Pantai itu menenangkan, dia seperti candu, dia selalu menerimamu dengan senang. Bir ditangan, santai dan kali ini benar-benar di pantai😀

Alarm hape berbunyi, terjaga dari mimpi tentang surga yang damai dan terbangun untuk menyapa surga lain yang sudah sehari ini dijelajahi, dua buah surga yang sangat berbeda. Surga dalam versi saya. Jam 5 pagi, memang belum telat untuk menyapa sang fajar. Panti masih sepi, saya alihkan pandangan pada sebuah warung kecil yang dijaga pasangan suami istri paruh baya di pojok jalan, mereka sedang bercengkrama dengan pelanggannya, dua orang lelaki memakai bahasa yang tidak saya kenal, barangkali bahasa Lombok, sesekali tertawa sambil menikmati sarapan mereka. Toh langit masih terlihat pekat saya putuskan untuk memesan kopi sambil menunggu waktu yang tepat. Mentari belum nampak masih terhalang gunung-gunung yang entah gunung apa namanya, yang jelas bukan Rinjani nampak menjulang dari daratan Lombok, langit sudah mulai membiru, gradasi lembayung memancar malu-malu. Beberapa orang duduk satai di pantai dan dermaga sambil merekam dengan kamera mereka, seperti saya. Pagi yang indah, beberapa perahu nampak beku bersandar di tengah laut, andai bisa dibikin time lapse oleh mata akan saya time lapse untuk 1 satu jam itu menjadi beberapa detik, hehehe… Jam 8 saya kembali ke penginapan untuk sarapan dan packing sebelum kembali ke bandara, saya berjalan gontai.

Tak puas, benar-benar tidak puas, sehari di Gili Trawangan terasa kurang, jam 11 siang saya check out.  Angin laut mengibas rambut, saya memilih duduk diujung depan perahu, langit masih biru, warna turquoise laut lamban-laun berubah menjadi biru pekat, dibelakang pulau Gili Trawangan terlihat mengecil, semakin lama semakin jauh malah terlihat menyatu dengan Gili Meno dan Gili Air sementara daratan Lombok terlihat semakin membesar, seolah ditarik. Tiba di Bangsal dan hendak kebandara, saya memilih jalan kaki ke luar dari pelabuhan menuju terminal karena jaraknya sangat dekat dan kemudian mencari taxi di luar terminal biar lebih murah, banyak taxi mangkal di sebelah timur terminal karena kalau nyari taxi diterminal harganya lebih mahal, oh ya jangan lupa nawar. Sebelumnya waktu tiba diterminal saya juga jalan kaki menuju kepelabuhan, karena taxi tidak diperbolehkan masuk langsung ke pelabuhan harus turun diterminal yang terlihat sangat tidak terawat itu. Begitu tiba diterminal dari Senggigi kemarin saya dipaksa naik Cidomo dengan harga Rp.10.000 perorang, jalan kaki cuman 300 meteran, terang saja saya pilih jalan kaki saja. Oh ya, harga tiket didermaga seharga Rp. 10.000 baik dari dermaga Bangsal ke Gili Trawangan maupun sebaliknya dan tunggulah panggilan sesuai warna tiket yang anda pegang.

Setelah tawar-menawar kami sepakat dengan ongkos taxi sebesar Rp. 150.000 untuk membawa saya kebandara dan minta singgah dibeberapa tempat untuk membeli oleh-oleh, lalu sopir tancap gas! Duduk di jok belakang dengan kondisi AC yang “pas-pasan” saya menghempaskan badan, terbayang Bali, terbayang suasana kamar, terbayang bakalan duduk di depan PC berjam-jam lagi, usai sudah 4 hari perjalanan menjelajahi Lombok.

Kunjungan pertama kali ke Lombok ketika diajak kakek pertama kali saat SD, lupa kelas berapa, untuk mengunjungi teman lama di Cakranegara dan beberapa saudara yang memang tinggal di Lombok Timur di Gubug Bali, yang masih saya ingat waktu itu adalah dengan ngeyelnya saya minta di belikan majalah Bobo karena hari itu memang majalah mingguan itu terbit, meski sudah ditahan-tahan untuk menunggu besok dan akhirnya diajak keliling Cakra hanya untuk memenuhi keinginan saya membeli majalah itu, hahaha… Lucu sekali, dan saat menulis blog ini bukanya saya kangen Lombok melainkan malah kangen kakek, sudah lama tidak pernah mengunjunginya. *Suara Phillip Phillips membahana merdu dengan lagunya Home*

gili-trawangan-(15) gili-trawangan-(17) gili-trawangan-(16) gili-trawangan-(14) gili-trawangan-(13) gili-trawangan-(12) gili-trawangan-(11) gili-trawangan-(10) gili-trawangan-(9) gili-trawangan-(8) gili-trawangan-(7) gili-trawangan-(6) gili-trawangan-(5) gili-trawangan-(4) gili-trawangan-(2) gili-trawangan-(1)

9 thoughts on “Sehari di Gili Trawangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s