Pagi di Cintamani

Penyanyi kawakan country Indonesia Ebiet G. Ade pernah menulis syair dalam lagunya yang berjudul, Nyanyian Rindu dalam album Camelia 4 pada tahun 1980, tapi pada tahun itu saya masih dalam kandungan ibunda tercinta. Begini penggalan bunyi dari syair lagu tersebut, Gemuruh ombak di pantai Kuta. Sejuk, lembut angin di bukit Kintamani. Gadis-gadis kecil menjajakan cincin tak mampu mengusir kau yang manis…” Silakan dilanjutkan jika anda mengenal dan hafal lagu tersebut. Meski tidak menggambarkan Kintamani secara menyeluruh namun sepertinya saya bisa merasakan kalau beliau memang pernah datang ke Kintamani, kecamatan yang menjadi bagian dari Kabupaten Bangli itu. Daerah yang berhawa dingin dan terkenal dengan pemandangan indah Gunung Batur di pagi hari berikut dengan Danau Batur-nya. Jadi tunggu apa lagi? Ambil kamera, gunakan jaketmu and Let’s traveling…

sunrise in batur, kintamani, baliMinggu subuh, saya bersama dua orang teman berangkat menuju Kintamani, kawasan yang merupakan asal-muasal dari kata Cintamani, tertulis pada Prasasti Sukawana A1 berangka tahun Saka 804 (882 M). Didaerah pegunungan Cintamani dulunya terdapat sebuah ashram untuk para rohaniawan baik itu pertapa maupun biksu, ajaran Siwa dan Budha. Bisa dibayangkan ditempat yang indah ini memang dari dulu menjadi tempat mencari ketenangan jasmani dan rohani. Yupp, every places has it’s own story, right?!

06.07 langit sudah merona biru dengan urat-urat awan berwarna gradasi merah kekuningan nampak memesona di timur, dari Penelokan terlihat dua gunung membentuk siluet dan matahari masih bersembunyi dibaliknya., sementara Gunung Batur terlihat sendiri dikepung kabut tipis dikakinya, alam di pagi hari selalu terlihat indah sekaligus misterius. Dingin mengecup kulit tapi keindahan fajarlah yang berhasil menciumku, kemudian sibuk bercumbu dengan alam dan kamera.

Dari tempat kami mengabadikan keelokan pagi warung dan beberapa restoran masih tutup, rumah-rumah penduduk juga belum terlihat mematikan lampu rumah mereka, sementara lalu-lalang kendaraan masih terbilang sepi atau memang selalu sesepi ini? Tak butuh waktu lama matahari sudah benar-benar menerangi jagat, kemudian kami putuskan untuk sarapan di pasar tradisonal terdekat. Sudah hampir jam 7 pagi, saya mencari penjual bubur namun sayangya tidak menemukannya yang pada akhirnya berujung dengan melahap sepiring sate ayam dengan potongan lontong plus kuah gule, sedapnya. Entah karena dingin yang bikin lapar atau memang satenya enak, saya nambah seporsi😀

Setelah puas dengan sarapan kaki kami langkahkan menuju kedalam pasar, menyelusuri setiap jalan dan sesekali berdesakan dengan pengunjung lain, berbaur dan tenggelam dalam snapshot street photo. Selain penduduk yang hilir-mudik saya menemukan banyak anjing berkeliaran, anjing-anjing liar. Siapa yang tak kenal dengan anjing Kintamani, ras anjing yang sudah diakui oleh dunia internasional sebagai salah satu ras anjing yang bagus.

Tak cukup waktu hanya dalam sehari untuk menjelajahi keelokan yang dimiliki Kintamani, saya berharap suatu hari bisa datang lagi, bermalam berhari-hari disini, membuat api unggun, menikmati kopi sambil menyaksikan sunrise yang berkabut setiap pagi.

sunrise in batur, kintamani, balisunrise, batur, kintamani, balikintamani bali by dedot (3)anjing kintamani, balikintamani bali by dedot (5)kintamani bali by dedot (6)kintamani bali by dedot (7)anjing kintamanikintamani bali by dedot (9)kintamani bali by dedot (10)kintamani bali by dedot (11)kintamani bali by dedot (12)kintamani bali by dedot (13)kintamani bali by dedot (14)kintamani bali by dedot (15)kintamani bali by dedot (16)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s