Mystical Morning in Parangtritis

Jam 5 pagi alarm hape saya berbunyi, waktunya bangkit dari hangatnya rangkulan kasur, namun tak semudah itu. Mulut sesekali menguap dan nyawa masih dikumpulkan dengan sedikit semangat yang mulai terbangun dan akhirnya mandi juga. Entah kenapa di hari ini tujuan pertama malah ke Parangtritis, padahal disini justu bagusnya sore, hmmm… Tidak mengapalah toh semua sudah diatur, saya jalankan tugas saja mengingat obyek selanjutya juga lumayan jauh, jadilah saya sepagi itu mengendap-endap diantara serbuan misty yang menguasai sepanjang pesisir pantai, pagi ini Parangtritis terkesan begitu mistis.

Ini adalah Dokar pertama yang saya temui di Pantai Parangtritis, sepagi ini sudah mendapat penumpang seorang ibu dengan anak lelakinya yang tak henti tersenyum.

Parkiran masih lengang sementara kabut tipis membuat jarak pandang tak leluasa, samar-samar saya masih bisa melihat sebuah tenda berdiri di pesisir sebelah barat, sementara beberapa muda-mudi sedang bercengkrama disebuah menara pendek, sesekali mengambil foto dengan kamera yang dibawa oleh salah satu orang dikumpulan tersebut. Ini adalah pertama kalinya saya mengunjungi Pantai Parangtritis, meski sudah beberapa kali mengunjungi Jogjakarta, sungguh terlalu. Cuaca pagi di pantai berpasir hitam ini mungkin memang selalu begini (berkabut), mendung juga menutup hampir disemua bagian langit yang bisa tersapu oleh mata saya.

Berbekal sebuah kamera DSLR dengan lensa 50mm saya berjalan menyelusuri pantai, sedikit demi sedikit pengunjung mulai berdatangan dengan segala aktifitas, mulai dari menyewa dokar, bermain ombak atau hanya sekedar duduk saja di atas pasir yang masih sedikit lembab hingga akhirnya hujan mulai turun dan membubarkan orang-orang dengan kegiatanya masing-masing. Saya berlari ke mobil dan menyudahi jalan-jalan pagi itu dan meninggalkan Parangtritis yang diliputi kegalauan kabut dan mendung.

Pantai masih sepi, belum terlihat aktivitas anak manusia di sini, sepi.

Awalnya saya hanya melihat sosok warna kuning mendekat ternyata setelah mendekat baru ketahuan kalo sosok tersebut adalah seorang wanita bule yang sedang lari pagi.

Camping di sini pasti seru kali ya, buktinya mereka bikin tenda disini. Malam bikin api unggun terus genjrang-genjreng petik gitar😀

Semakin siang keadaan makin rame, pengunjung sudah mulai berdatangan.

Matahari sudah bangkit dari tidur dan sudah melewati bukit tinggi disebalh timur namun pekatnya kabut menahan sinarnya masuk menyinari pesisir.

Seorang bapak sedang memasang tiang-tiang penyangga untuk dijadikan tenda yang nantinya disewakan kepada penggunjung.

Bermain ombak, adalah cara umum yang dilakukan oleh pengunjung yang sedang berlibur kepantai.

Siomay, makanan khas Bandung ini menjadi salah satu jajanan yang selalu hadir di Pantai Paangtritis.

Gerimis mulai turun, seorang ibu memakai payung yang sebenarnya justru akan disewakanya juga sambil menunggu suaminya bikin tenda.

Satu tenda telah terpasang dan beberapa tiang menunggu untuk diselesaikan.

Pemasangan tenda berlanjut, gerimis tak menyurutkan niat mereka.

Sebuah dokar telah menemukan pelanggan pertamanya kemudian mengantar mereka berkeliling pantai.

Keluarga kecil, sebuah keluarga kecil bergegas berteduh dari gerimis berharapa sebuah payung kecil yang mereka bawa bisa menaungi mereka.

Saya lupa siapa nama ibu ini, yang sedang dia lakukan adalah mencari penyon, semacam binatang laut yang tinggalnya di dalam pasir dipinggiran ombak, dia melakukan aktifitas ini setiap pagi dan setiap hari kecuali sakit katanya.

Photo landscape terakhir yang saya ambil sebelum cabut dari pantai nan eksotik ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s