Candi Abang

Ternyata Jogjakarta juga punya banyak obyek wisata candi, salah satu bentuk konkrit sejarah betapa berbudaya dan hebatnya Nusantara ini. Selama ini saya hanya tahunya sebatas Candi Prambanan, Candi Kalasan, Candi Plaosan dan Candi Ratu Boko, namun banyak lagi candi-candi kecil yang kurang diketahui khalayak banyak khususnya wisatawan luar Pulau Jawa. Mungkin juga karena promosi tentang keberadaan candi itu kurang, salah satunya adalah Candi Abang.

Mungkin anda bertanya-tanya, mana candinya? Bukit itulah Candi Abang, candi yang telah bermetamorfosis menjadi sebuah bukit yang tandus.😦

Setelah sebelumnya mengunjungi Candi Plaosan dan Candi Ijo saya bersikukuh untuk bisa melihat Candi Abang, saya sangat penasaran dengan candi ini, candi yang saya ketahui hanya serupa bukit hijau, terlihat indah apa lagi jika melihat foto seorang teman dimana ada beberapa domba berkeliaran diatasnya. Sore itu saya tahu saya tidak akan mendapatkan sunset yang indah bersamaan didua tempat sekaligus dalam waktu sehari, maka saya memilih Candi Abang sementara biarkanlah Candi Ratu Boko menjadi tujuan saya besok walau hari ini juga akan tetap dikunjungi, sedikit memaksa memang.

Mobil terpaksa dirapatkan di pinggir jalan raya karena sangat tidak memungkinkan untuk masuk ke areal candi mengingat jalan menuju candi berbatu dan tak beraturan, barangkali jika sepeda atau motor masih bisa mendekat hingga ke dekat areal candi. Sambil tergesa-gesa saya melihat selain berbatu jalanan juga berdebu kering yang sesekali terbang ketika dipijak. Dikiri-kanan jalan banyak pepohonan tinggi yang entah itu pohon apa, ranting-rantingnya mengering tak banyak dedaunan yang bertahan, walupun ada pasti berwarna coklat, kering. September ini cuaca masih panas sepertinya tidak mungkin Candi Abang akan terlihat hijau, tak apalah! Desisku.

Benar saja, rerumputan yang membalut Candi Abang mengering, beberapa anak muda berpasangan sedang duduk-duduk santai di atas puncak candi sepertinya tempat ini menjadi ajang pacaran, melihat saya datang mereka seperti terusik, satu persatu mereka turun kebawah. Sementara itu cahaya matahari mulai meredup, menguning, guratan cahayanya nampak memendar diantara dedaunan disebelah barat candi. Saya masih bisa melihat bungkahan batu bata yang menjadi susunan dari candi ini, mungkin karena disusun dari balok-balok batu bata maka candi ini disebut Candi Abang, candi yang berwarna merah tidak seperti tipikal candi-candi di Indonesia pada umumnya yang berbahan dari batu hitam atau batu paras. Saya membayangkan candi ini jika tidak menjadi bukit pada saat ini, mungkin dia lebih mirip gapura atau pura-pura di Bali yang banyak terbuat dari batu bata namun dengan ukuran yang lebih besar dan megah. Keberadaan Candi Abang sepertinya kurang terjaga, tidak satupun saya temukan penjaga dari pemerintah daerah atau desa setempat, layaknya penjaga yang banyak bertebaran di candi-candi besar lainya di Jogja, sangat disayangkan.

Dari dalam mobil yang melaju makin kencang saya bisa melihat matahari sudah serupa buah delima matang yang siap dipetik diujung barat, bulat dan memerah, sementara langit mulai bergradasi jingga dan alam yang sudah mulai remang membuat sunset sore itu sangat indah. Andai saja saya bawa lensa tele atau setidaknya lensa 80-200mm perjalanan tidak akan saya lanjutkan ke Candi Ratu Boko sore itu, saya akan suruh Tito berhenti disitu saja, kemudian berlari mendekat ke arah sebuah pohon ditenggah ladang. Apa daya lensa yang saya bawa hari itu semuanya wide lens dan mobil terus melaju menuju Candi Ratu Boko, berharap Brahman menunda beberapa detik moment sunset yang indah sore itu🙂

Musim kering, sepanjang jalan menuju Candi Abang hampir semua pepohonan saya temui mengering tanpa dedaunan.

Sebelah timur bebukitan terliat indah dari atas Candi Abang.

Seperti obyek wisata pada umumnya Candi Abang juga menjadi ajang tempat berpacaran.

Kalo sudah begini saya jadi ingin motret pasangan pra nikah saja di sini, hehehe

Di balik bukit candi, tepatnya disebelah barat matahari sebentar lagi turun dan pedesaan terlihat kudus dikepung kabut tipis.

Foto ini menjadi jepretan terakhir saya di sore itu, sebenarnya siluet yang berbentuk segitiga itu adalah atap rumah yang berjejer 3 namun di foto atap paling kanan tidak begitu terlihat🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s