Jogja Yang Selalu Istimewa

Ah Jogja… Kota yang satu ini memang tidak ada matinya. Berapakalipun kaki ini menapakinya selalu bikin kangen balik lagi. Jogja tak sekedar menyandang gelar kota istimewa, istimewa karena keberadaanya di republik ini namun juga istimewa di hati para pelancongnya terlebih penduduknya. Kemanapun kaki melangkah senantiasa ada senyum yang iklas menyapa anda, selain budaya kraton yang sudah terkenal, Jogja juga menyimpan panorama wisata alam yang mempesona. Dan satu kalimat yang senantiasa terngiang indah ditelinga saya adalah kata “ngih“, terucap cepat, dalam dan tulus dengan badan yang sedikit dibungkukan oleh sang pengucapnya. Kata itu  terdengar setiap kali saya mengucapkan terima kasih kepada mereka yang saya temui tatkala menanyakan alamat atau pamitan.

Lambang dari Kraton Jogjakarta

Hari itu 12 September 2012 adalah hari yang sudah saya tunggu-tunggu, hari pertama saya dari 6 hari yang sudah terjadwalkan untuk mengubek-ubek Jogja, dari Malioboro hingga ke Kalibiru, menyelusuri pantai-pantai berpasir putih yang dimiliki Gunung Kidul, wisata Candi Plaosan hingga ke Candi Abang dan tentu saja wisata kulinernya yang saya yakin anda pasti ngiler dibuatnya.

Berhubung saya sudah packing dari kemarin jadi pagi ini saya hanya tinggal berangkat kebandara diantar seorang sohib, suksma Gobang. Duduk-duduk ganteng di lounge setelah check in, alunan lagu Nusantara-nya Koes Plus masih membahana dikuping sebelah kiri,maklum earphone yang sebelah kanan lagi mogok, hehehe… Ini adalah lagu favorite saya untuk traveling. Saya pikir waktu masih panjang tidak ada salahnya ke toilet sebentar dan baru saja duduk sekembalinya dari toilet terdengar suara “Panggilan terakhir untuk penumpang Garuda menuju Jogjakarta bla…bla…bla…” Serta merta kaki saya berlarian menuju gate 16, hampir saja ketinggalan pesawat, hahaha… Satu pelajaran, jangan pernah sok santai kupingin lagu disaat anda hendak menunggu jam flight😀

Semangat full, saking semangatnya begitu sampai dan check in Hotel Grha Somaya saya langsung mangkat bersama Tito, teman perjalanan yang akan medampingi saya selama 5 hari kedepan. Tujuan pertama adalah Malioboro, menyelusuri jalan ini seperti terbawa kembali pada kenangan pada kunjungan-kunjungan sebelumnya. Lalu lalang belum begitu ramai maklum saat itu masih jam 8 pagi, ketika tiba di Pasar Bringharjo pedagang Pecel-pun masih siap-siap membuka lapaknya. Benteng Vedenburg, Taman Sari dan Masjid bawah tanah adalah sederet obyek wisata yang bisa dikunjungi di tengah kota tidak terkecuali Tugu Jogja, maskot dari kota Jogjakarta.

Kemudian yang membuat saya terpana adalah pantai-pantai berpasir putih yang dimiliki oleh Gunung Kidul, sebagai orang Bali merasa terancam dengan pantai-pantai tersebut, tidak berlebihan memang Gunung Kidul ibarat Uluwatu atau Jimbaran yang ada di Bali. Terletak di ketinggian, berbukit namun menyimpan harta karun yang belum begitu digali, sebutlah Pantai Kukup, meski garis pantainya tidak panjang namun memiliki pulau kecil yang bisa diakses lewat jembatan kecil yang menghubungkanya dengan daratan, apa lagi ketika sunset menjelang, bukit-bukit sebelah barat pantai membentuk tumpukan-tumpukan yang sangat indah, para pecinta landscape photography pasti suka pemandangan ini.

Yang terbilang baru adalah wisata meyelusuri Kaliurang atau Kaliadem dengan Jeep, wisata yang membawa kita kembali mengenang peristiwa meletusnya Merapi, miris memang tapi dari situ kita bisa banyak belajar bahwa kekuatan alam memang luar biasa besar jadi jangan pernah mengabaikanya, alam adalah bagian dari kehidupan kita, pelihara dan jagalah. Bagian dari wisata ini salah satunya mengunjungi Musium Sisa Hartaku yaitu sisa-sisa dari sebuah rumah yang menjadi korban kemarahan Merapi, mulai dari jam dinding yang berhenti pas jam kejadian hingga tulang belulang sapi peliharaan yang punya rumah, disini biarkanlah air mata anda berlinang jika memang dia menghendakinya.

Dan banyak lagi obyek wisata lainya yang akan saya ceritakan kemudian secara bergantian diblog ini. Terima kasih yang tak terhingga untuk BP2KY (Badan Promosi Pariwisata Kota Yogyakarta) yang telah mensuport perjalanan ini. Badan yang terdiri dari beberapa pelaku pariwisata yang punya effort dan kepedulian tinggi tentang pariwisata tidak hanya kota Jogjakarta namun mencakup keseluruhan dari Provinsi Jogjakarta. Dengan tagline “Experience The Living Culture and Explore The Exoticness of The Heritage” mengajak kita untuk menyelusuri setiap keindahan hakiki yang dimiliki Jogjakarta.
Jadi apakah anda akan melakukan liburan pada akhir pekan ini? Dari pada mengunjungi negri tetangga kenapa tidak kenali dulu negrimu? Ayo kenali dan jelajahi negrimu, dengan memilih Yogyakarta sebagai salah satu tujuan anda atau barangkali sudah pernah kesana namun masih ingin mengenang kenangan-kenangan indah anda? Jogjakarta, kota dengan sejuta budaya dan romansa, kota dengan tagline Never Ending Asia memang layak disandangnya.

Salah satu sudut di Keraton Jogjakarta, dua orang Abdi Dalem sedang melintasi pintu Keraton.

Candi Plaosan, Jogja merupakan satu-satunya destinasi candi yang paling populer di Indonesia, puluhan candi bertebaran disini.

Kolam pemandian Taman Sari, salah satu destenasi yang terhitung masih di dalam kota Jogja.

Seorang pengunjung sedang menikmati Pecel khas Jogja yang ada di depan Pasar Bringharjo.

Musium Sisa Hartaku kunjungan wajib jika anda melakukan wisata tour ke Kaliurang.

Penari, suguhan yang akan ada temui di restaurant Pendopo Ndalem

Sunset di Pantai Kukup, pantai yang berpasir putih bersih di Gunung Kidul.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s