Menyapa Pagi di Ngadisari

Mengingat pemanas air di penginapan sedang tidak beres maka penyelamat kami dari hari-hari mandi dengan air es adalah teko dan kompor gas yang kemudian disediakan setelah kami complaint. Maka jadilah memasak air menjadi aktivitas tambahan setiap hari, seperti pada pagi di hari kedua, saya masih memasak air ketika beberapa teman justru sudah pada datang dari jalan-jalan mengelilingi kampung Ngadisari, Bromo, ada yang memang ingin ngasoh ada juga yang memang kebelet, morning call :))

Saya banyak menjumpai rumah kecil ditengah ladang bawang di Desa Ngadisari.

Teman-teman saya sudah memencar kesegala arah walau tidak menutup kemungkinan nantinya kami bakal ketemu di beberapa titik jalan desa yang sebagian besar tidak beraspal, hanya di semen ala kadarnya dan tidak luput dari pasir dan debu yang menutupi sebagian badan jalan. Untuk menyambut Yadnya Kesada atau Kesodo beberapa penjor sederhana sudah tegak berdiri didepan rumah penduduk dari kemarin, apakah ini hasil Balinisasi? Mengingat saya sama sekali tidak menemukan pohon kelapa yang bisa diambil janurnya untuk membuat Penjor. Begitupun dengan Padmasana atau di Bali kami menyebutnya dengan nama Sanggah, nampaknya juga banyak ada dipekarangan rumah.

Suara cempreng motor yang menaiki jalanan menanjak sudah tak terdengar lagi ketika kaki saya sampai pada sebuah tempat berkumpulnya beberapa orang pria dan wanita yang rata-rata sudah tua, entah dimana anak mudanya, rupanya mereka sedang mengambil air pada sebuah penampungan air yang disediakan desa setempat. Mereka sangat ramah, sesekali kami bercengkrama sambil menggambil beberapa gambar, rupanya mereka juga pemalu terutama ibu-ibu jika hendak di foto, mereka akan menutup muka sambil berkata-kata kemudian tertawa bersama-sama dengan memakai bahasa daerah yang tidak saya mengerti dan saya hanya bisa nyengir sambil bilang “boleh di foto ya?”. Hampir semua dari mereka membawa jerigen dengan ukuran besar yang kemudian di gotong satu persatu kerumah masing-masing.

Rumah-rumah disini berjejer rapat dengan ketinggian yang berbeda mengingat daerah perbukitan, kebanyakan berdiri di sepanjang jalan utama, meskipun masuk ke dalam gang namun gang tersebut masih bisa dimasuki jeep, dimana sebagian besar dari mereka memiliki sebuah garase tempat memarkir jeep dan gang-gang dengan rumah yang padat hanya sampai sekitar 200 meter saja dan persis setelahnya banyak ladang-ladang bawang. Berladang adalah salah satu mata pencaharian penduduk desa selain menjadi pemandu dengan jeep, ojek motor atau penjual topi kupluk dan sarung tangan.

Saya pikir penduduk desa sudah terbiasa dengan suhu dingin dan barangkali akan tidak memakai baju tebal dan pakaian pengusir dingin, ternyata hampir semua penduduk yang saya temui pagi itu dan seterusnya memakai pakaian ekstra dan hampir semuanya memakai sarung, sarung yang bermotif aneka design dan warna. Yang unik sarung itu tidak dipakai seperti biasanya, umumnya sarung di pakai di pinggang dan kemudian diikat namun disini sarung di pakai di leher dan ke dua ujung sarung diikat di depan leher, mirip jubah. Jika para pria disini memakai topi maka para perempuanya memakai bandana yang diikatkan dibelakang kepala sehingga rambut mereka yang panjang bisa keluar dari lubang bandana.

Begitulah hari-hari kami di pagi hari, menyelusuri desa dengan keramahan penduduknya, mencari tahu setiap jengkal keunikan dan kekhasan yang mereka miliki sembari berusaha mengusir dingin yang kadarnya kian meninggi saja. Setiap dari kami punya cerita tersendiri, termasuk Apel, teman terkocak di perjalanan ini, yang ternyata punya kenalan seorang nenek yang melambai-lambaikan tangan mengucapkan selamat jalan sambil menggendong cucu lelakinya ketika kami ada di mobil hendak pulang ke Bali. *Tiba-tiba kangen menyeruak*

Padmasana dan Penjor banyak berdiri disepanjang jalan dan rumah-rumah penduduk, apakah hasil dari Balinisasi?

Di salah satu sudut jalan berliku di sebelah barat dari Desa Ngadisari.

Kondisi tanah yang berbukit membuat beberapa bangunan tidak beraturan, ada yang diatas dan ada yang dibawah.

Ladang bawang, seorang bapak sedang menyiram ladang bawangnya dengan air bekas olahan rumah tangga.

Beberapa penduduk sedang membawa kayu bakar yang diambil dari ladang di utara perkampungan di lereng gunung.

Bocah Desa Ngadisari, awalnya mereka malu-malu di foto tapi setelah di bujuk bersama orangtuanya akhirnya mau di foto, malu-malu tapi mau😀

Seorang anak sedang membersihkan pasir dari selokan sementara dua orang temannya hanya menyimak, hari ini mereka libur sekolah katanya.

Bersih-bersih jeep setelah tadi pagi di bawah menganter tamu keliling obyek wisata Bromo.

Di salah satu pojok gang. Bebukitan, rumah-rumah penduduk yang padat dan ladang.

Salah satu rumah penduduk yang mendirikan penjor untuk memeriahkan Yadnya Kesada.

Pasar kecil, karena saya bangunya kesiangan maka saya hanya menemukan tiga orang ibu-ibu yang bergegas menutup dagangannya di sebuah pojok gang di sebuah pasar kecil.

Bercengkrama, seorang nenek dan ayah dari seorang anak sedang bercengkrama di depan rumah, anak-anak disini sudah terbiasa memakai pasir sebagai mainan, padahal berdebu.

Mengambil air, rupanya disini memang sulit untuk mendapatkan air namun pemerintah sudah menyediakan penampungan air bersih di beberapa titik desa.

2 thoughts on “Menyapa Pagi di Ngadisari

  1. sepertinya bukan balinisasi mas..
    bukankah hindu di bali yang sekarang ini adalah hindu yang dulu ada pada era majapahit? kemudian diserang oleh Demak, sehingga para penganutnya bermigrasi ke bali dan sebagian bertahan di Tengger ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s