Bromo: Traveling Tentang Jacket, Instagram dan Kentang Goreng

Menyiapkan sebuah perjalanan wisata ke Bromo ternyata tidaklah semudah bayangan saya, apa lagi bila dilakukan bersama dengan banyak orang dan kami hanyalah traveler amatiran. Berhari-hari mencari jasa travel yang melayani keluar kota Denpasar namun tak membuahkan hasil. Jadwal tanggal yang sudah fix tidak mungkin diganggu gugat mengingat tujuan kami ke Bromo adalah untuk bisa mengabadikan Yadnya Kesada yang jatuh pada tanggal 3 Agustus dini hari. Hingga akhirnya semua bisa teratasi tiga hari sebelum hari keberangkatan, fuuuiiiihhh!!!

Pemandangan gugusan Gunung Bromo dan beberapa gunung lainya  terlihat dari Penanjakan

Tanggal 1 Agustus Pukul 06.00 Wita saya berangkat dari kos bersama seorang teman menjemput beberapa teman yang menunggu dibeberapa titik jalan satu arah menuju Pelabuhan Gilimanuk. Menurut info yang teman-teman saya peroleh mengatakan perjalanan akan memakan waktu cuman 6 jam ternyata meleset, perjalanan dari Bali sampai di penginapan tak kurang dari 12 jam. Sejatinya hawa dingin sudah mulai terasa ketika kami sampai di sebuah desa di kaki gunung. Sesampainya di kamar saya buru-buru mengganti celana pendek saya dengan celana kargo panjang dan tentu saja jacket tebal yang akan menjadi pelindung wajib selama  empat hari kedepan meski sedang tidur sekalipun, saya memang tidak tahan suhu dingin. Kemudian jaket adalah salah satu juru selamat saya, penjaga suhu badan agar tetap hangat.

Perjalanan masih panjang, kemanapun kami melangkah dan mobil berjalan hampir semua obyek yang menarik tak luput dari bidikan kamera DSLR dan tentu saja bidikan kamera hape untuk bikin foto Instagram, yuppp…aplikasi itu memang fenomenal, tak terhelakan, apalagi kami semua pencinta fotografi, Instagram seperti sebuah aplikasi yang wajib. Dengan hastag #bromotrip setiap saat kami upload beberapa foto perjalanan, apapun, termasuk foto jahil moments lucu kami. Begitu kesempatan datang langsung jepret, pilih tone kemudian langsung upload, instant sesuai namanya, kami kecanduan, kami Instagram addict.

Awalnya saya pikir penginapan kami pesan akan berada jauh dari kawasan wisata Gunung Bromo mengingat hotel-hotel full book yang kami hubungi sebelumnya terkesan paling dekat dengan lokasi namun justru terbalik dan saya merasa beruntung menemukan lokasi yang tepat. Hari pertama kami pergunakan untuk beristirahat setelah menempuh perjalanan yang panjang dan mati gaya duduk selama 12 jam di dalam mobil, santap malam pertama kami di sebuah warung di Desa Ngadisari adalah Rawon, kami menamainya dengan Rawon Banjir karena nasi dan Rawon jadi satu piring, hahahaha

Besoknya, jam 3 subuh kami seharusnya sudah di jemput oleh Bapak Gitar sang pengemudi Jeep molor menjadi jam 3.30 Wib, beliau yang akan mengantar kami menuju puncak Penanjakan untuk motret landscape sunrise gugusan Gunung Bromo dan gunung-gunung lainya. Matahari mulai meninggi, satu persatu wisatawan angkat kaki dan disaat pengunjung sudah benar-benar hilang yang tadinya penuh di lokasi yang tak lebih dari enam are ini begitu sesak sementara kami berlima malah masih berada di lokasi di akhiri dengan dengan acara yang sudah bisa ditebak, foto bersama. Kekekeke… Akan tetapi itu bukanlah akhir dari kegiatan kami di Penanjakan, sarapan di warunglah kemudian yang memepertemukan kami pada kentang goreng hingga akhirnya menjadi makanan yang paling kami cari ketika makan di setiap warung yang kami kunjungi. Kentang goreng yang sangat sederhana, wujudnya tidak seperti kentang goreng di restoran siap saji namun hanyalah potongan sebutir kentang yang dibagi dua dan kemudian di goreng, sesederhana itu.  Mungkin rasa lapar dan cuaca yang dingin membuatnya semakin lezat di santap, lidah kami jatuh cinta, hahahaha…

Pergunjingan kentang goreng terus berlanjut namun tak ada yang lebih menyiksa kami adalah pemanas air di penginapan tidak berfungsi dengan baik, bersentuhan dengan air dingin di Bromo ibarat terkena sengatan listrik tegangan tinggi jadilah mandi sebagai sebuah kegiatan yang patut dihilangkan dari kebiasaan rutin, cukup sikat gigi dan mandi ala dua jari. Saya tidak mau traveling ini menyiksa hingga akhirnya kami dipinjami sebuah teko untuk bisa memasak air dengan kompor gas yang sudah tersedia, selamatlah saya dari siksa mandi air dingin. Bromo, betapa dinginya dirimu!

Saya dan seorang teman sedang memesan makanan disebuah warung yang menjadi tempat favorite kami untuk makan.

Saya dan seorang teman sedang memesan makanan disebuah warung yang menjadi tempat favorite kami untuk makan.

Penanjakan, lokasi titik tertinggi dan terindah untuk bisa mengabadikan Bromo dan “kawan-kawanya” di pagi hari

Pasir Berbisaik, karena pernah dipakai untuk melakukan shooting film karya Garin Nugroho berjudul Pasir Berbisik jadilah gurun ini dinamai demikian.

Taxi kuda, mereka akan banyak anda temui di lereng Gunung Bromo atau di seputaran Pura Poteng.

Pura Poteng, berarstitektur Jawa pura ini terletak di lautan padang pasir mendekati lereng Gunung Bromo dan Gunung Patok

Menunggu tumpangan, nenek ini adalah warga Desa Ngadisari dengan berbalut sarung khas Suku Tengger.

Aktifitas pagi di salah satu sudut Desa Ngadisari dimana kebanyakan warganya merupakan Suku Tengger yang beragama Hindu.

Dilereng Bromo, banyak warga menyediakan jasa sewa kuda bagi wisatawan yang ingin melakukan pendakian ke puncak gunung meski hanya bisa diantar hingga anak tangga pertama.

5 thoughts on “Bromo: Traveling Tentang Jacket, Instagram dan Kentang Goreng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s