Mengintip Irama Karya Enengpahembang

Saya baca di jadwal acara pementasan malam ini di Art Center Denpasar akan ada Special Dance Performance from Mataram City di Ayodya Stage  pada pukul 20.00 Wita. Teratrik hati ingin melihat kebudayaan dari pulau tetangga, namun sesampainya di lokasi saya malah menemukan puluhan bapak-bapak berpakaian batik membawa alat musik yang terbuat dari bambu, sebagian kecil dari alat tersebut memiliki ukuran yang terbilang besar.

Dulu mereka memainkan musik bambu ini secara utuh bersama dengan 60 orang, namun sekrang mereka hanya bermain dengan 45 orang saja.

Usut punya usut ternyata mereka adalah penampil dari Sulawesi Utara, tepatnya dari Kabupaten Kepulauan Sangihe dan mereka adalah sekumpulan kontingen musik bambu Irama Karya Enengpahembang. Mereka mengakui bahwasanya musik bambu ini adalah kesenian asli daerah mereka Minahasa, yang disebut dengan Musik Bambu Melulu.

Sebanyak 45 orang sudah berdiri ditengah stage yang melingkar dengan memegang alat musik mereka masing-masing kecuali seorang Tukang Palu (Konduktor) berdiri menghadap ke pemain musik, kedua tanganya sibuk bergerak naik turun. Sudah dua lagu dimainkan namun lampu penerang stage hanya sebuah lampu neon yang temaram, ketika saya tanyakan pada seseorang dari rombongan musik mereka juga sedang berusaha menghubungi panitia Pesta Kesenian Bali untuk menghidupkan lampu stage hingga akhirnya lampu menyala semua setelah beberapa lagu berkumandang.

Ditengah-tengah acara seorang MC mengatakan bangga bisa tampil di Bali, memperkenalkan seorang bapak bernama Samudara Peters sebagai sang pembuat alat musik yang mereka pakai, sembari berpromosi satu set alat musik bambu bisa dibeli dengan harga 25 juta saja katanya. Penonton bertepuk tangan.

Beberapa kali penonton ikut diajak bernyanyi, seorang pria berduet dengan seorang bule wanita kemudian pada lagu Call Me mereka mendaulat seorang perempuan muda bernama Yasika untuk bernyanyi bersama mereka. Tak terasa 11 lagu sudah dimainkan namun beberapa penonton berteriak meminta mereka memainkan lagu yang berjudul Terpesona, sepertinya mereka sudah tahu beberapa lagu yang sering grup musik ini mainkan. Hingga akhirnya total 14 lagu sudah mereka mainkan, tepuk tangan penonton membahana puas dengan penampilan mereka yang indah malam ini.

Mereka yang berdiri paling belakang memegang alat yang terlihat seperti terompet besar itu sesungguhnya adalah bass.

Sesekali berjalan melingkar sambil mengajak beberapa penonton berdendang.

Ber-Cha-Cha bersama penonton.

Samudra Peters sang pembuat alat musik bambu.

Foto bersama para dedengkon Irama Karya Enengpahembang termasuk Konduktor dan Manager.

5 thoughts on “Mengintip Irama Karya Enengpahembang

  1. Just for share

    Musik Tiup Bambu dari Sangihe

    Musik tradisional ini berasal dari kepulauan Sangihe Talaud yang diciptakan oleh seorang petani pada tahun 1700. Musik bambu ini telah menyebar ke seluruh daerah Sulawesi termasuk toraja dalam tradisi sangihe, komposisi musik bambu yg di kembangkan Toraja itu di namakan musik suling (suling bahasa sangihenya “bansi”) di kembangkan oleh guru injil sangihe. komposisi musik suling juga di kembangkan di papua oleh guru injil sangihe yg dinamakan “suling tambur”. Musik tiup bambu di diperkirakan lahir di Kepulauan sangihe 100 tahun sebelum masuknya eropa disangihe (eropa masuk sangihe ” spanyol” awal tahun 1400). Pengembangan musik bambu disangihe mulai terakulturasi dengan komposisi eropa di awal thn 1700. Disaat akhir thn 1800 lahir aransmen musik bambu tertua di Sulawesi Utara dalam sebuah komposisi yg di ciptakan oleh Raja Willem Manuel Pandensolang Mokodompis dari kerajaan Manganitu Sangihe.. Komposisi tersebut dapat di temukan di Taman Budaya Manado. Pemain musik suling adalah perempuan,..dan pementasan terakhir dari kelompok musik ini adalah tahun 1927. sejak saat itu komposisi musik suling bambu tidak lagi dimainkan, karena sudah di ganti oleh Musik tiup bambu dalam konstruksi ansambel.

    Dengan spesifikasi yang khusus musik bambu dari kabupatan Sangihe Talaud. Instrumen melodinya adalah suling kecil, suling besar dan trompet, namun adaversi yang menyebutnya sebagai klarinet, tetapi karena klarinet versi SanghieTalaud tidak mengunakan rit layaknya alat musik klarinet dari barat (asal mula)maka sebagian besar pemain menyebutnya trompet. Kemudian di lengkapi dengan instrumen pengiring kecil, yang dinamakan korno dengan berbagai jenisnya.Sedangkan pengiring besar dinamakan bambu tengah/kontra bas (sejenis Cello pada musik bambu klarinet dan seng), trombone dan bas.

    Pada awalnya musik bambu hanya merupakan alat penghibur bagi masyarakat petani di sangihe setelah seharian melakukan aktivitas sebagai petani yang biasanya dibunyikan setelah selesai makan malam. Dewasa ini di daerah Sangihe dan talaud termauk juga di manado, musik bambu telah menjadi salah satu jenis musik yang sering digunakan pada acara-acara tertentu agar menjadi lebih semarak dan bergengsi.

  2. Saya sebagai putra Sangihe bangga punya warisan budaya yg sangat baik, indah setelah mengalami perubahan bentuk yg dikembangkan oleh putra daerah yg masih peduli dengan budaya.
    Salut dan bangga kepada saudara-saudara yg masih tetap cinta mudik bambu dan terus mengembangkan sehingga tercipta bentuk musik bambu moderen.

    Terima kasih, kembangkan terus inovasi sehingga musik bambu tidak terbilas zaman.

    salam :
    Efraim Paparang
    Makassar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s