Ni Nyoman Sari, Generasi Tua Pengerajin Kain Cepuk

Tak banyak yang bisa saya ketahui dari pertemuan singkat dengan seorang nenek yang memiliki nama lengkap Ni Nyoman Sari, ketika ditanya tentang umur dia hanya bisa terkekeh dengan gigi yang ompong dan guratan-guratan keriput yang kian menegas diwajahnya, dia tak pernah tahu berapa umurnya sendiri.
Sejak masih kecil dia sudah diajari oleh ibunda tercinta untuk belajar menenun terutama untuk menenun Saudan, sebuah selendang tenun Bebali (khas masyarakat Bali) yang berfungsi menutup dada seorang wanita ketika menikah dan fungsi lainya adalah sebagai pengikat keris yang digunakan oleh para lelaki yang melakukan upacara pernikahan.

Sang nenek pengerajin Tenun Cepuk terlihat serius menenun di dalam rumah kecilnya.

Matahari masih sangat tinggi ketika saya berkunjung kerumah Nenek Sari, begitu dia biasa disapa. Pada siang yang sangat terik itu beliau sedang duduk di atas bilah papan yang merupakan bagian komponen dari alat tenun tradisonal bernama Cagcag, alat tenun yang di pakainya sejak dari belajar dan belum pernah diganti, itupun merupakan sebuah warisan namun tetap awet dipakainya hingga sekarang. Meski beberapa bagian dari alat terlihat baru terutama kayu di bagian belakang pinggangnya yang berfungsi untuk mengingat gulungan kain yang hampir jadi. Ada yang kemudian membuatnya tersenyum kembali, adalah alat bagian pemegang benang yang terukir indah, dengan bangganya dia memperlihatkan sembari berkata bahwa itu dibuatkan oleh mendiang suaminya yang telah memberikanya lima orang anak, satu pria dan empat orang anak perempuan yang kesemuanya kini telah mewarisi kemampuan menenunya.

Tak banyak tersisa generasi tua yang masih menjadi pengerajin tenun Cepuk begitupun dengan generasi mudanya. Sangat disayangkan padahal warisan ini harus dijaga kesinambunganya, kain tenun Cepuk merupakan salah satu warisan budaya khas yang dimiliki oleh Nusa Penida terutama di Tanglad, desa kecil yang menjadi asal-muasal kain tradisonal yang terkenal sampai ke manca negara. Untuk menyelesaikan sebuah kain Cepuk bermotif bintang dan lingkaran diperlukan waktu berbulan-bulan, karena alasan ekonomis kebanyakan para pengerajin di Tanglad lebih sering menenun kain berjenis Saudan dimana pengerjaanya hanya antara tiga sampai empat hari saja selain karena lebih kecil dari ukuran sebuah kain tenun Cepuk. Sama halnya dengan nenek Sari ketika muda beliau bisa mengerjakan sebuah tenun Saudan hanya dalam tiga hari namun seiring usianya yang semakin tua kini dia bisa menyelesaikan sebuah tenunan dalam waktu empat hari.

Menyenangkan bisa sedikit tahu tentang keseharian dan usahanya menjaga kain Cepuk tetap ada sebagai warisan budaya lokal. Tak terasa hari semakin sore, bayangan yang ditimbulan matahari pada setiap benda terlihat semakin panjang saja.
Lapar sudah sedari tadi melanda namun sedikit tertolong oleh sebotol air mineral yang saya bawa dari warung dekat penginapan. Setelah pamitan saya bergegas pulang menuruni perbukitan Desa Tanglad untuk menuju warung makan yang terdekat yang rupanya saya temukan kemudian setelah melewati beberapa kilo perjalanan, sangat melelahkan.

Dengan terampil tangan-tangan keriputnya sedang menyambung benang yang putus.


Kamar yang sebagai tempatnya menenun sekaligus berfungsi sebagai dapur.


Meski sudah tua namun dia masih terlihat cantik dengan senyum malu-malunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s