Nusa Penida Dalam Empat Hari

Persis setelah para penikmat matahari terbit membubarkan diri di sepanjang pantai, saya sudah menginjakan kaki di pelataran parkir, ujung dari Jalan Pantai Sanur. Nampak beberapa toko souvenir sudah mulai membuka kios-kios kecil mereka, wisatawan dan beberapa calon penumpang boat maupun kapal tongkang hilir mudik disekitar areal pantai dan loket penjualan tiket boat ternyata masih belum buka. Saya lirik di ponsel waktu menunjukan jam 06.58 Wita, setelah sekian lama satu persatu teman-teman saya bermunculan kecuali seorang kawan kerja dari teman yang akhirnya menjadi teman baru saya. Tiket sudah ditangan sembari menunggu boat berangkat kami sempat sarapan di sebuah warung nasi yang banyak bertebaran di sepanjang jalan pantai yang ber-paving. Perut kenyang, teman seperjuangan sudah komplit dan kami sudah siap untuk menjelajahi Nusa Penida selama 4 hari kedepan, yeahhh…

Senja di Nusa Penida selalu eksotik, seorang anak berjalan ditepi pelabuhan Toya Pakeh.

Tujuan awalnya hanyalah untuk berlibur namun di sepanjang hari menuju keberangkatan beberapa hal mengalami perubahan, Agung yang akhirnya harus mengajak Agnes teman sekantornya melakukan liputan untuk dijadikan berita di sebuah koran harian di tempat mereka bekerja, Sayoga yang akhirnya juga melakukan project photo dan hanya saya sendiri yang tujuanya just for fun. Ingin rasanya liburan ini bisa memberikan sesuatu, tak hanya sekedar berlibur namun mendapatkan sesuatu dari berlibur seperti yang teman-teman saya lakukan.

Begitu boat mendarat dan kaki-kaki kami menginjak pasir di dermaga Toya Pakeh hal pertama yang kami lakukan adalah menawar harga sewa sepeda motor yang begitu datang langsung menawari kami, umumnya mereka adalah bapak-bapak. Walaupun disini ada bemo namun keberadaanya tidak mencangkup seleuruh wilayah dan memang sedikit yang beroprasi apa lagi pada jam malam, kecuali anda mau carter. Saya sarankan sewa motor adalah yang terbaik jika anda ingin lebih leluasa untuk bisa mengelililngi pulau, harga sewa yang awalnya ditawari Rp. 60.000 per hari kami dapatkan menjadi Rp. 50.000 per hari, jangan lupa cari motor yang hemat BBM selain memiliki kemampuan menjelajah yang hebat, maklum medan disini sangat menantang, berbukit, jalan yang sempit dan beberapa ruas jalan berlubang dan berpasir jadi berhati-hatilah.

Soal tempat menginap kami pun tak rewel, karena Agung dan Agnes harus meliput kegiatan pelaestarian Burung Jalak pada sebuah yayasan asing di Nusa Penida maka kamipun sepakat untuk menginap di kamar yang di tawarkan oleh pihak yayasan, sewa kamar yang lumayan murah karena di discount sangat menguntungkan buat saya sebagai seorang backpacker yang kere, lumayan untuk menghemat. Setiap pagi saya dan teman-teman sarapan di Warung Wayan, warung yang letaknya berdekatan dengan bangunan yayasan, menu favorite sarapan kami adalah pan cake, kue dadar ala Mbok Wayan sang pemilik warung, adonan tepung yang dipanggang di beri beberapa irisan pisang dan setelah itu di taburi irisan-irisan gula aren yang kemudian digulung, nikmat sekali jika ditemani dengan kopi.

Hari-hari saya selanjutnya adalah berpetualang berempat, berdua atau sendirian saja, mengingat masing-masing dari kami memiliki tujuan yang berbeda kecuali para jurnalis Agung dan Agnes mereka adalah partner kerja yang solid. Hari pertama saya langsung menyelusuri panasnya Penida menuju ke Desa Tanglad dan sekembalinya dari penjelajahan kulit saya terlihat gosong dan kulit bagian pelipis perihnya minta ampun, saking senengnya saya lupa memakai sunblock, damn! Sementara Sayoga masih bergelut dengan petani rumput laut, di hari kedua saya akhirnya bergabung denganya menyelusuri pesisir utara Nusa Penida dari Sunset hingga ke Sunrise. Di hari ketiga setelah para journalist menghabiskan waktu mereka mengumpulkan data dan pengamatan, tepatnya disiang hari setelah saya selesai menikmati makan siang berupa sate lilit dan pepes ikan laut di dekat pelabuhan Desa Sampalan kami bersama-sama lagi menuju obyek wisata Kristal Bay dan Banah. Sebelum akhirnya merapat lagi di pelabuhan Toya Pakeh dengan kebun kelapa yang berjejeran sepanjang jalan menuju pelabuhan untuk menyambut senja.

Ada yang menarik di setiap santap makan malam kami di Warung Wayan, selalu bertemu dengan tiga cewek bule yang menjadi volunteer di yayasan, seorang adalah warga Inggris dan dua orang lainya berasal dari Jerman. Kebiasaan kami setelah memesan makanan adalah duduk-duduk sambil bercengkrama di sebuah gazebo kecil di belakang rumah di pinggir pantai yang memiliki view pulau Bali dengan Gunung Agung yang menjulang. Bebincang sampai malam, membicarakan apa saja sampai mata kami mengisyaratkan bahwa kantuk sudah tak bisa ditahan, sering kali mereka pamit terlebih dahulu untuk balik kekamar. Setelah itu tinggalah kami sambil membicarakan kegiatan kami sebelumnya dan dari tempat ini saya selalu suka menatap gemintang berkilauan di langit yang tak berawan. Di hari kedua hujan sempat turun membasahi tanah di saat kami membuka mata di pagi hari saja dan selanjutnya langit di atas pulau selalu biru tak berawan.

Tak terasa hari terakhir berlibur di pulau tiba, liburan kali ini menghabiskan 10 Giga memori SD card, kebanyakan foto-foto mengenai alam Penida dan keseharian penduduknya dari pagi hingga sore saja, karena disini tak ada kegiatan saat malam menjelang, no discotic, no pub, no warung setelah jam 10 malam menjelang, hehehe…
Traveling di Nusa Penida itu adalah traveling yang menyenangkan terutama buat para traveler yang sekaligus seorang photographer. Nusa Penida memiliki landscape unik, kehidupan petani rumput laut yang menarik untuk dibidik, telusuri setiap ruas jalanya dan bersiaplah dengan kejutan-kejutan lokasi yang menarik diujung jalan.

Sarapan saya setiap pagi di warung Wayan dengan pemandangan Gunung Agung dan langit yang selalu biru.


Selamat pagi dari Penida, gazebo di Warung Wayan yang menjadi tempat favorit kami untuk duduk sambil menikamti pemandangan pantai.


Salah satu pantai yang memiliki pemandangan Pulau Lembongan dan bagian Penida sendiri.


Salah satu pemandangan di Desa Tanglad, seorang anak kecil sedang menaikan layang-layangnya.


Masyarakat lokal menyebutnya dengan Bukit Teletabis, bukit savana yang indah.


Salah satu pemandangan indah yang dimilik Banah, butuh waktu sekitar 1 jam untuk mencapainya dari Sampalan.


Jika sore menjelang para petani rumput laut acap kali membenarkan patok jaring sambil menuai panen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s