Pantai Suluban, Surganya Para Peselancar

Meski sesekali mendung menutupi langit namun siang itu matahari tak urung membakar kulit saya yang memang terlihat hitam. Sudah dua hari ini seorang teman minta diajak jalan mengunjungi beberapa pantai yang ada di Bali bagian selatan, terutama di wilayah Jimbaran dan sekitarnya. Kaos oblong, celana pendek dan sandal jepit adalah “seragam” resmi kebesaran saya, memacu si “bebek besi” menuju ke Pantai Suluban, berpacu dengan beberapa kendaraan yang kian ramai saja memenuhi jalanan Bali. Saya benci Bali yang terlalu hiruk pikuk seperti ini. Matahari belum terlalu condong dan teriknya sangat terasa di kaki kanan saya, panasnya bikin ngumpat! Mungkin karena habis makan nasi babi guling dan kekenyangan, tiba-tiba saja mata terserang kantuk dijalan padahal baru setengah perjalanan, tepatnya di simpang lima Patung Dewa Ruci kantuk itu kian menjadi. Sayoga sang pemilik motor yang saya bonceng tak menyadarinya tapi motor terus melaju meski dengan sedikit pelan. Don’t try it ya, it’s very dangerous.😀

Hohoho, indah dan jadi pengen nyebur😀



Ini kali pertama saya menginjakan kaki di Pantai Suluban, begitu tiba di parkiran saya langsung bisa melihat tangga yang terlihat disemen sudah agak lama di sebelah utara areal parkir yang tak begitu luas, suara ombak belum terdengar dari sini, angin juga tak begitu kencang dan wajar saja karena rupanya anak tangga ini lumayan panjang turun ke bawah, ok kita olah raga! Sebelum sampai di bibir pantai mata saya langsung menemukan banyak bangunan kecil, seperti sebuah perkampungan surfer. Penginapan, restaurant, toko alat surfing hingga kios-kios kecil yang menyediakan jasa photography khusus para surfer, tampak beberapa pegawai penjual jasa foto surfer sibuk membuka file foto di personal computer mereka dan di sebelahnya seorang bule dengan seksama menyimak foto-fotonya ketika surfing di pantai, sebuah ladang bisnis yang menggiurkan😀

Saya pikir setelah sampai di perkampungan surfing di tepi bukit ini saya akan langsung menemui pantai tapi ternyata saya harus turun beberapa anak tangga lagi untuk menemukan pantai yang menjadi surga para peselancar. Pantai yang sungguh unik, sangat berbeda dari pantai kebanyakan yang ada di Bali, saya harus berjalan di bawah goa dulu baru bisa menemukan pantai nan eksotik ini. Oleh karena berjalan dibawah gua dan bebatuan inilah makanya pantai ini di namakan Patai Suluban. Saya harus naik turun tangga untuk bisa mengambil beberapa gambar, terdapat beberapa tangga menuju atas batu besar yang sudah di sulap menjadi restoran mini. Andai saja bebatuan besar di bibir pantai ini dibiarkan alami tidak di bangun restoran dan tempat berjemur (sunbathing) sudah pasti tempat ini akan terlihat lebih indah, sayangnya meski dibangun tempat untuk bisa menikmati pantai malah terlihat sangat buruk, saya sangat muak melihatnya.

Setelah saya telusuri ternyata disebelah selatan goa batu karang terdapat pantai yang tersembunyi, saya harus benar-benar jongkok untuk bisa masuk dan menemukan pantai yang tak begitu luas, panjangnya sekitar 300 meter dan jarak ombak dan dinding bukit sekitar 10 meter, bisa anda bayangkan jika tiba-tiba ombak yang sangat besar datang anda tidak akan bisa kemana-mana karena di belakang pantai adalah tembok tebing yang tingginya sekitar 200 meter ke atas, justru karena itu tempat ini terlihat keren, hehehe…

Dari tadi saya cuman ngomongin pantainya saja, lalu kemana para surfer yang rata-rata adalah bule itu? Sebenarnya mereka dari tadi lalu lalang di sekitar pantai, ada yang lagi pemanasan, baru masuk ke pantai, ada yang sudah pulang dan kebanyakan justru lagi nangkring di papan surfing di tengah laut menunggu ombak besar yang mereka cari kemudian menari indah diatas ombak, ah andai saja saya bisa main surfing pasti tubuh saya tidak akan segempal ini dan para gadis pasti lebih tertarik lagi :p *mimpi*
Terlihat juga beberapa anak kecil lokal bermain dengan menggunakan papan selancar yang terlihat tumpul dan lebih kecil entah apa namanya, sepertinya mereka adalah anak-anak yang tinggal di perkampungan surfing di atas bukit. Mereka terlihat mahir dengan papan mereka masing-masing jika dibandingkan dengan saya misalnya :p
Kulit mereka hitam, efek dari teriknya sang surya yang membakar kulit mereka setiap hari. Ombak di tepi pantai memang tak sebesar ombak yang berada di tengah laut Pantai Suluban, di tengah laut ombak bisa setinggi tiga meter dan jika ombak itu datang beramai-ramailah para peselancar menaiki papan mereka dan menari indah mengikuti jatuhnya ombak. Setelah puas menyelusuri bibi pantai di bawah kaki kembali saya langkahkan menuju atas bukit, di perkampungan para penikmat dan para pencari kehidupan dari surfing. Beberapa ibu-ibu sibuk membuat gelang persahabatan sambil ngobrol, anak-anak mereka bercengkrama dengan teman seusianya sambil berlarian. Di sebelah barat tampak sebuah bangunan kecil seperti gazebo dua orang ibu-ibu sedang memijat bule. Wisatawan hilir mudik naik turun beberapa di antaranya duduk-duduk di restoran sambil melepas dahaga dengan minuman favorit mereka, haus saya tertuntaskan dengan meneguk sebotol air mineral yang saya beli di parkiran atas sebelum turun ke pantai, segernya…

One beach is recommended visiting for the travelers, selain untuk surfing bagi tingkat profesional tempat ini juga enak buat nongkrong.
Dari atas bukit sisi utara hamparan lautan terlihat semakin luas dan masih saja beberapa surfer duduk di atas papan mereka menunggu ombak yang tepat. Sebelum tenggelam digaris horizon, matahari terlebih dahulu ditenggelamkan oleh gumpalan awan pekat di barat. Saya puas namun teman saya malah lebih puas karena sebelum sunset menjelang dia bisa menemukan lokasi yang paling menurut dia keren untuk bisa memotret pantai indah ini. Saya lelah, botol air mineral sudah kosong dan sore ini saya tuntaskan dengan hisapan sebatang rokok diatas bukit Pantai Suluban, selamat sore semesta.

Situasi di kampung surfer, seorang anak kecil duduk melihat pantai di bawah sambil menunggu keluarganya.


Ayo surfing...


Jangan khawatir disini juga ada penjaga pantainya yang siap selama jam kerja, biasanya dari jam 8 pagi hingga jam 6 sore.


Terdapat restoran yang dibangun diatas bebatuan di atas pantai.


Welcome, ini adalah jalan menuju bibir pantai.


Sering kali terdapat canang yang di haturkan di tepian pantai.


Surfing...surfing...surfing...


Surfing, swimming and beer😀


Lady surfer


Local kids surfer


Salah satu jalan bergoa menuju pantai disisi selatan.


Setelah anda melewati jalan begua seperti foto diatas maka anda akan menemukan pantai nan cantik ini.


Pulang...


Para peselancar...


Golden hours...

5 thoughts on “Pantai Suluban, Surganya Para Peselancar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s