Mepantigan, Seni Pertunjukan Silat & Gulat Ala Bali.

Tak ada aktivitas yang bisa saya lakukan siang itu hanya tiduran di atas kasur dan menatap langit-langit kamar yang semakin usang saja, sungguh kamar ini terasa membosankan tidak seperti biasanya. Iseng membuat status di BB yang berbunyi “Kije dik neh?” kira-kira kalo di alihkan ke Bahasa artinya, “Kemana ya?” dan setelah itu dua Ping muncul dari seorang teman, yang satunya ngajak hunting landscape dan yang satunya lagi ngajak hunting culture Mepantingan. Tentu saja saya terima tawaran yang terakhir karena tergelitik untuk lebih tahu karena masih sangat asing terdengar dikuping saya, tawaran yang sangat menarik.

Perpaduan tari, treatikal dan seni bergulat, unik dan seru banget.


Janji ketemu dan berangkat bareng di sebuah kafe di Jalah Hayam Wuruk, Denpasar dan akan berangkat jam 4 sore ke lokasi karena Mepantigan akan di adakan mulai jam 5 sore di Batubulan, Gianyar. Jam di ponsel menunjukan waktu pukul 3.25 Wita ketika tiba di kafe, saya masih sempat menghirup beberapa kali kopi Bali yang baru saya pesan sebelum akhirnya Anggara datang dan kemudian ngajak bergegas untuk berangkat. Perjalanan dari Denpasar ke Batubulan menempuh waktu sekitar 15 menit saja. Sambil memacu motor saya sempat bertanya tentang apa itu Mepantigan namun tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, ternyata Anggara pun tidak tahu tentang atraksi ini. Namun yang pasti dari kata Mepantigan saya bisa sedikit menerka atraksi seperti apa yang akan saya tonton nantinya. Mepantigan sendiri berasal dari Bahasa Bali yang berarti Dibanting, terdengar sedikit serem😀
Setelah memarkir motor dan kemudian memasuki sebuah tempat yang mereka sebut pondok saya melihat pemandangan yang sungguh asri disebidang tanah yang saya pikir memiliki luas sekitar 25 Are. Begitu kaki ini melangkah masuk mata saya sudah melihat sebuah gazebo kecil terletak di bagian barat areal tanah, di sebelah selatan berdiri empat buah pondok-pondok kecil yang terbuat dari bambu dan berartap jerami begitupun di sebelah utara terdapat dua buah bangunan pondok berjejer dengan sebuah kandang kuda terbuka dengan dua buah kuda yang terikat yang disibukan dengan makanannya berupa rumput-rumput yang terlihat sudah sangat layu.

Bukankah ini sangat asri? Bangunanya terbuat dari bahan-bahan alami, berdinding bambu dan beratap jerami.


Dari Anggara saya dikenalkan kepada Bli Wayan dan kemudian kepada Bapak Putu Witsen Widjaya yang ternyata beliau dalah penggagas ide dari Mepantigan ini. Tak banyak yang bisa saya korek dari beliau mengenai atraksi Mepantigan karena beliau terlihat sibuk menyiapkan diri dan beberapa alat sebagai sarana upacara dalam pementasan. Atas saran Bapak Putu Witsen kami disuruh mengenakan pakaian sama persis yang akan dipakai oleh para peserta Mepantigan. Pakaiannya sendiri terdiri dari Kamben, Saput dan Udeng yang biasa di pakai oleh umat Hindu dalam keseharian dalam beradat tapi ini terlihat lebih klasik dengan tiga warna yang mendominasi, merah, putih dan hitam (Tri Datu).

Setelah semua anggota datang maka pementasanpun segera dimulai, dengan memegang Genta di tangan kiri sembari membunyikannya Bapak Putu Witsen bertindak sebagai pemimpin atraksi dan semua anggota mengalunkan mantram Gayatri Mantra bersama-sama, ini adalah ritual pertama kepada patung Dewi Sri yang dilakukan oleh seluruh peserta sebelum pementasan dimulai. Tumpukan kayu cendana dalam sebuah wadah yang dibakar mengeluarkan asap tipis semakin membuat kesan mistis. Seorang bule perempuan dengan berpakaian serba putih berlakon sebagai Dewi Sri berjalan paling pertama kemudian duduk di tengah arena diikuti para pelakon lainya dan disusul oleh para pemain musik. Alat musik yang dipakai juga sangat sederhana tidak selengkap gambelan Bali pada umumnya, hanya memakai tiga alat musik yakni, Cenceng, Kempur dan Tawa-tawa.

Matahari sudah semakin condong di barat dan pementasan ini baru dimulai, beberapa kali sebagian peserta melakukan atraksi melumuri tubuh mereka dengan lumpur hingga ke atraksi mengeluarkan jurus yang sepertinya terlihat seperti jurus silat.
Para pemain gambelan masuk kedalam kolam lumpur memainkan alat yang mereka pegang sembari beratraksi yang terlihat seperti melakukan gerakan Agem tari Bali. Sepasang pemain menari kedalam tengah-tengah kolam layaknya seorang kekasih namun tiba-tiba saja seorang pemain pria lain datang menghancurkan kebahagian mereka, disnilah kemudian pergulatan di mulai, satu demi satu tokoh-tokoh wanita memantigang (membanting) para pria yang menghancurkan ke bahagianya hingga akhirnya sang pria kembali ke pelukan sang kekasih. Begitulah sedikit cuplikan lakon hari ini yang berjudul “Penyatuan Lingga – Yoni”. Suasana makin gelap saja, setelah sempat foto bersama dan kemudian ritual yang terakhir mereka lakukan adalah mandi bersama sambil membersihkan pakaian yang mereka kenakan di sebuah sungai yang terletak di sebelah timur bangunan.

Setelah saya melihat keseluruhan pementasan saya bisa menyimpulkan bahwa Mepantigan adalah sebuah pementasan tari, pemujaan dan seni gulat ala Bali. Sebuah perpaduan akulturasi budaya yang sangat indah dan seru dengan memakai media lumpur (kadang juga di pentaskan di pantai). Menurut Bapak Putu Witsen sesungguhnya Mepantigan ini sebenarnya merupakan sebuah bentuk persembahan kepada Dewi Sri yang awal-awalnya hanya di pentaskan pada saat pemujaan Hari Dewi Sri yang dipuja umat Hindu di Bali sebagai sang pemberi berkah. Namun jika anda ingin menonton pertunjukan mereka bisa kontak secara pribadi, sebuah seni pertunjukan yang wajib di tonton jika anda sedang melakukan liburan ke Bali. Silakan kunjungi web resmi mereka di sini jika ingin lebih tahu tentang Mempantigan. Ternyata seni pertunjukan Mepantigan ditemukan dan sudah diperkenalkan pada publik pada tahun 2006, duh..kemana saja saya?
Satu lagi kebudayaan baru yang telah tercipta di ranah Bali dan hari ini saya sangat senang bisa traveling lokal secara dadakan sambil berharap suatu hari nanti bisa bermain sebagai peserta yang dibanting atau membanting tidak hanya sebagai penonton yang berlarian kesana kemari mengejar moments sembari menghindari cipratan lumpur, hehehe… Enjoy!

Bersama Pak Wayan, Pak Witsen sibuk menyiapkan beberapa peralatan yang akan dipakai pada pementasan.


Pak Witsen dan salah satu peserta lain sibuk memakai Kamben.


Briefing sebentar sebelum pertunjukan di mulai.


Pementasan dimulai dengan prolog dari tiga suara yang dihasilkan oleh Cenceng, Kempur dan Tawa-tawa.


Sang penemu, Bapak Putu Witsen beraksi melapal matra Gayatri Mantra sambil membunyikan Genta di tangan kirinya.


Mantra Gayatri Mantra masih berkumandang sembari duduk menghadap penonton yang berada di depan mereka.


Bapak Putu Witsen memercikan tirta kepada seluruh peserta setelah Puja Gayatri berakhir.


Ritual pertama, yakni pemujaan kepada Dewi Sri.


Mereka mempragakan beberapa jurus yang sangat sederhana seperti jurus-jurus silat.


Menenggelamkan diri ke dalam kolam lumpur dengan gerakan-gerakan yang seragam.


Membentu lingkaran, berpegangan dan kemudian menjatuhkan diri ke di atas lumpur.


Menjatuhkan diri dan siap-siaplah kena cipratan lumpur, byuurrrr...


Dengan posisi tiduran mereka membentuk lingkaran lagi sambil tangan-tangan mereka meremas lumpur.


Saatnya para Penabuh gambelan beraksi.


Dua orang penari melakukan lakon bak sepasang kekasih dan akan menjadi seru setelah ini.


Mepantigan sesungguhnya dimulai dari sini...


Anda mau dibanting seperti ini? Owww...


Menari, bergulat dan kemudian di banting, begitu seterusnya.


Di penghujung cerita mereka sempat memakai media keris yang sepertinya terbuat dari kayu namun berujung tumpul.


Mandi bersama, tak ada pornografi disini, ini murni hanya ritual membersihkan diri dan pakaian dari lumpur.

7 thoughts on “Mepantigan, Seni Pertunjukan Silat & Gulat Ala Bali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s