Pentas Seni Nomaden itu Bernama Ngelawang

Siapa bilang tradisi Ngelawang semakin langka? Di sore itu cuaca sedikit panas, motor bebek yang saya kendarai baru saja memasuki jalan utama menuju kontrakan, persis di depan gang ke dua tampak sekumpulan anak sedang Ngelawang dengan berpakaian adat Bali, mereka masing-masing memegang alat musik lengkap dengan sebuah Barong Bangkung sebagai media utama yang di mainkan oleh dua orang dengan di komandoi oleh seorang anggota dewasa, jumblah mereka tak lebih dari 10 orang. Seorang ibu memanggil dari depan pintu pagar untuk nanggap, sementara putri kecilnya yang saya kira berumur 4 tahunan sedang ragu-ragu antara takut dan senang melihat atraksi Barong didepannya. Spontan motor saya parkir disebelah timur jalan kemudian dengan sigap mengeluarkan kamera DSLR dari tas karena secara kebetulan hari itu baru saja saya datang dari hunting photo Mekotek di Munggu.

Barong Bangkung (Barong berbentuk wajah babi) sebagai media utama tarian Ngelawang.


Ngelawang biasanya di pentaskan antara Galungan hingga hari raya Kuningan, di lingkungan tempat saya ngontrak ini tepatnya di daerah Pemecutan, Denpasar Barat tradisi Ngelawang masih sering saya temui, jadi kalo ada yang bilang Ngelawang semakin langka itu salah atau memang barangkali langka di daerah tertentu? Sepenuhnya saya tidak tahu karena di Antiga, di tanah kelahiran saya sendiri tradisi ini memang tidak ada (baca, tidak pernah saya temui) atau memang sudah punah? Saya meragu… Di rumah seorang saudara di daerah Tabanan saya masih menemui tradisi ini, bahkan saudara saya membelikan seperangkap gambelan lengkap untuk Ngelawang yang dilakukan oleh anaknya dengan teman-teman mereka.

Sebuah pentas seni yang sifatnya nomaden, memberikan hiburan secara door to door namun memiliki tujuan yang sangat mulia. Tradisi Ngelawang sendiri berfungsi untuk menyeimbangkan alam semesta, menetralisir segala hal buruk dan menjauhkan alam Bali dari kejahatan.

Umumnya tradisi Ngelawang dilakukan oleh anak-anak kecil, rata-rata dari mereka masih duduk di bangku SD tapi jangan salah, meski umur mereka kecil kemampuan mereka memainkan gambelan dan kelihaian dua orang menarikan Barong tak usah diragukan, mereka memang di didik untuk itu dan mereka adalah pilar-pilar semangat baru untuk kesinambungan kesenian budaya Bali, ditangan merekalah kesenian Bali akan semakin ajeg. Astungkara.

Setelah beberapa kali jepret saya kemudian mengeluarkan selembar uang ribuan, sebagai wujud terima kasih untuk keberadaan mereka yang telah menjaga tradisi ini tetap ada, meski tak banyak jumblah rupiah yang saya beri, anak kecil yang memegang Umbul-umbul (payung Bali) tetap tersenyum menerimanya. Setelah mereka berlalu maka sayapun kembali ke kontrakan yang jaraknya sekitar 100 meter lagi. Rahajeng Kuningan semeton sedharma, dumogi ngemolihang rahayu lan shanti. Om Astu Tat Astu.

Barong Bangkung beraksi di depan sebuah rumah di Jalan Merta Jaya, Denpasar.


Sujatinya mereka Ngayah (bekerja dengan suka cita) namun biasanya dibayar dengan suka rela.


Umunya dilakukan oleh anak-anak namun sering juga di gawangi oleh beberapa orang remaja atau dewasa untuk mengisi kekosongan dibeberapa alat musik yang tidak bisa dibawakan oleh anak-anak.


Ngintip Ngelawang dari balik pintu pagar tetangga😀


Waktu itu saya nyawer beberapa ribu rupiah saja, tapi mereka tetep terima yang penting iklas🙂


Tarian terakhir sebelum Barong Bangkung cabut menuju pintu ke pintu lainya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s