Munggu, Kuningan dan Tradisi Mekotek

Munggu adalah sebuah desa kecil yang terletak sekitar 10 kilo meter di sebelah barat kota Denpasar dan terhitung masuk kedalam kecamatan Mengwi, Badung. Desa kecil dengan rumah-rumah yang padat tipikal desa-desa kecil yang ada di Bali pada umumnya, jalannya kecil beraspal dan memiliki 12 Banjar yang jaraknya hampir berdekatan antara Banjar satu dengan Banjar lainnya. Persawahan justru banyak saya temui diluar areal pusat desa terutama wilayah bagian barat desa.

Puncak atraksi Mekotek atau Ngerebek ini berlangsung di batas desa Munggu sebelah timur laut desa..



Apa yang menarik dari Desa Munggu ini? Tak lain adalah tradisi Mekotek atau mereka juga menyebutnya dengan nama Ngerebek, yang berlangsung kemarin. Sebuah tradisi unik yang secara turun temurun dilakukan setiap Hari Raya Kuningan yakni hari raya umat Hindu Bali yang jatuhnya setiap 6 bulan sekali berdasarkan penanggalan Bali. Dari sekian banyak penduduk lokal warga Munggu yang saya temui tak ada yang tahu persis sejak kapan tradisi ini dilangsungkan, kebanyakan dari mereka hanya tahu tradisi ini sudah dijalankan sebelum mereka dilahirkan dan konon jika Mekotek tidak dilakukan maka desa mereka akan mengalami “grubug“, yakni meninggalnya penduduk tanpa sebab yang pasti dan terjadi terus menerus. Namun apapun yang melatar belakangi tradisi ini, buat saya tradisi Mekotek adalah salah satu bentuk tradisi yang tujuannya menyatukan pemuda desa dalam sebuah kebersamaan, terlihat sangat jelas ketika puluhan penyalin (kayu tumpul, kecil namun panjang yang digunakan untuk Mekotek) disatukan dapat mengangkat beberapa orang atau barangkali menjatuhkan sebuah Penjor yang besar sekalipun, tentu saja bagi pemilik penjor yang kena “permainan” ini tidak boleh marah. Bersorak-sorailah mereka para pemuda yang sudah bisa menjatuhkan sebatang penjor nan kokoh.

Berjarak sekitar 500 meter dari simpang empat jalan Raya Tanah Lot dan Pantai Seseh saya pacu motor menuju ke arah utara dimana jalan ini adalah salah satu jalan menuju Desa Munggu, matahari sangat terik dan teman saya mengerutu tentang kulitnya yang terbakar, padahal sejatinya dia memang sudah hitam meski tak terbakar matahari😀

Berhubung ini kunjungan perdana saya ke tradisi ini, saya putuskan datang lebih awal. Menurut seorang teman yang pernah meliput kesini bahwa upacara dilakukan pada jam 1 siang, jadilah saya dengan Desoe datang jam 11.30 dan memang kenyataanya matahari memang sedang ingin membakar kulit kami, panasnya…
Sambil menunggu acara digelar saya memilih duduk di sebuah warung kecil sambil memesan sebuah kopi untuk mengusir kantuk yang justru biasanya mulai mengintai di jam-jam seperti ini. Menurut ibu yang jaga warung upacara pertama berlangsung di Pura Dalem yang kemudian berjalan menuju Pura Puseh yang ternyata menjadi satu dengan Pura Desa di sebelah utara desa setelah itu barulah pemuda-pemuda desa yang sudah siap dengan penyalin Mekotek-nya ikut pawai sepanjang jalan mengelilingi desa. Benar saja, sekitar jam 2 sore beberapa umat dengan berseragam serba putih dan mengangkat panji-panji kebesaran dan berbagai sarana upacara berjalan menuju Pura Desa, setelah selesai prosesi acara Mendak Ida Bethara di Pura Puseh barulah para peserta Mekotek bergabung. Awalnya mereka hanya berjalan biasa dengan membawa Penyalin masing-masing dan Mekotek selanjutnya akan terjadi di setiap persimpangan disepanjang jalan hingga atraksi yang paling ditunggu-tunggu dilakukan di simpang batas desa sebelah timur laut dekat persawahan, disinilah puncaknya atraksi Mekotek berlangsung hingga batas waktu yang tak ditentukan namun biasanya hanya berlangsung sampai matahari akan tenggelam, tidak sampai malam.

Ini pertama kali saya meliput dan langsung kena Penyalin persis dikepala, Udeng (ikat kepala khas masyarakat Hindu Bali) dan kaca mata hitam yang saya sematkan dikepala jatuh berhamburan dan sambil menghindar dari kejatuhan Penyalin yang lain jadilah saya meringis sambil berlarian kepinggir tempat yang terasa aman, kepala lumayan sakit, hikkk…

Seru, satu lagi tradisi budaya Bali yang sangat unik dan menarik, tradisi yang penuh simbolisasi dengan semangat kebersamaan. Sebenarnya tak hanya tradisi ini saja yang ada di Bali pada saat hari raya Kuningan, ada lagi beberapa tradisi lain yang tak kalah menarik dan unik misalnya, Mesuryak di Tabanan dan Siyat Jempana di Klungkung. Semoga saja saya masih berumur panjang untuk bisa meliput tradisi-tradisi lain yang ada di natah Bali. Awigenam Astu.

Arak-arakan Mepeed umat Hindu warga Canggu dari Pura Dalem menuju Pura Puseh sebelum Mekotek dilangsungkan.


Selain menggotong sarana upacara, panji-panji Ida Bethara terdapat juga bendera Merah Putih sebagai salah satu panji kehormatan umat, keren ya😀


Salah seorang warga sedang menungu rombongan warga peserta Mekotek dari Pura Desa yang akan segera bergabung sudah siap dengan Penyalin-nya.


Akhirnya mereka bergerak untuk mengelilingi desa setelah dari tadi menunggu di depan Pura Desa.


Warga peserta Mekotek mendapat percikan tirta disetiap pura yang dilewati.


Membuat formasi membentuk sebuah piramid, kemeriahan Mekotek akan segera terjadi.


Untuk menghindari hal-hal diluar kemungkinan, beberapa Pecalang (polisis adat) selalu siap siaga menjaga selama acara berlangsung.


Ini dia, beberapa orang pemuda berlomba menaiki tumpukan Penyalin yang berbentuk piramida yang kemudian digotong dan dijatuhkan di areal pesawahan atau kali, seru....


Siaga menuju hiruk pikuk Mekotek.


Membersihakn diri di kali setelah dijatuhkan di persawahan yang berlumpur tebal😀


Seorang pemuda bersusah payah menaiki puncak piramida Penyalin.


Setelah diatas puncak, siap-siap di arak dan di goyang-goyang kemudian dijatuhkan, kejailan berlanjut, hahaha...


Hampir tak ada yang terluka tapi kemungkinan jatuh mencium tanah dan hal-hal kotor lainya tak mungkin bisa dihindari😀


Dijatuhkan ke sungai? Tidak menjadi masalah, malahan semakin seru.


Dijatuhkan kesawah? Malah semakin seru dan tawa penonton membuat acara ini semakin meriah.


Lelah Ngerebek, beristirahat sebentar sementara sambil melihat keriuhan Ngerebek/Mekotek teman-temannya.


Dan hauspun tak bisa dihindari sambil berjalan menuju rumah masing-masing karena Mekotek pada Kuningan ini sudah berakhir.

7 thoughts on “Munggu, Kuningan dan Tradisi Mekotek

  1. beh, aku kok keliatan lagi di empang neh? edit dikit nae, biar tetep keliatan cakep🙂. adi sing ngoraang ngoraang masang foto dini nah bli? tampangku keliatan blau disana, jelek sekali.. :p~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s