Penampahan Galungan, Ngelawar dan Tradisi Ngejot

Dulu waktu saya masih kecil, saya masih ingat setiap pagi di hari Penampahan Galungan seisi rumah sudah disibukan dengan Ngelawar, Meme (sebutan ibu dalam bahasa Bali) yang sibuk dengan panci dan penggorenganya di dapur sementara Bapak akan sibuk Metektekan (istilah untuk segalah aktivitas yang berhubungan dengan memotong) di teras depan rumah dengan beberapa orang saudara, sementara saya akan sangat sibuk dengan melihat kesibukan mereka, *anak yang sungguh tahunya makan saja* hahaha…

Nyate, mereka sedang bikin sate lilit, dengan melilitkan cincangan daging yang sudah di bumbu di permukaan sebuah tongkat kecil yang bernama Tusuk Sate


Bagi yang belum tahu, Ngelawar adalah proses membuat Lawar yakni sejenis makanan olahan khas orang Bali yang biasanya terbuat dari cincangan atau potongan daging dengan campuran kelapa beserta sayur tertentu. Makanan yang wajib ada di setiap upacara umat Hindu Bali dan perayaan acara-acara adat. Bapak yang memang tidak begitu pandai Ngelawar hingga Memek acap kali komplin dengan hasil olahan beliau, termasuk saya kecuali kakak saya yang lebih suka “nerima”, hehehe… Oleh karena itu di Bapak biasanya selalu Ngelawar-nya rame-rame baik dengan tetangga ataupun saudara untuk menutupi kekurangan Bapak yang tak begitu pintar mengolah Lawar, hehehe…
Sebagai tuan rumah tentu saja kami paling sibuk tak terkecuali saya, meski tidak begitu mengerti bagaimana caranya Ngerancap Basa (memotong dan mengolah bumbu), saya akan selalu dengan sedikit senang kebagian mengupas bawang merah atau menghilangkan tangkai dari cabe bahkan hanya melihat saja, hahaha… Intinya semua sibuk dengan tugas masing-masing hingga Lawar, Sate, Tum atau beserta Jukut (sayur) yang biasanya selalu di bikin berkuah tersaji dan siap untuk disantap bersama. Sebelum makanan ini disantap maka akan seperti biasa Mbok Luh, kakak perempuan saya akan Mebanten ke Sanggah (pura keluarga) dan kemudian Ngejot ke tetangga atau ke beberapa saudara.

Metektekan, adalah proses potong memotong daging. Foto ini saya ambil di sebuah upacara pernikahan seorang teman di Karangasem.


Tradisi Ngejot inilah yang paling membekas dalam diri saya dari Penampahan Galungan, Ngejot adalah sebutan untuk sebuah tradisi berbagi yang ada di Bali. Tetangga saya yang bernama Meme Mudri yang juga merupakan bibi, Meme Ketut dan Cucu Pica adalah tetangga yang paling sering Ngejot ke rumah, Ibu akan tersenyum sumringah menerima Jotan mereka dan kemudian akan balik memberikan apa yang sekiranya mereka tidak punya, misalnya Meme Ketut akan selalu membawa Jotan Lawar Klungah (Lawar yang terbuat dari kulit tempurung kelapa muda) dan Pesan Cacah (Pepes Yuyu kecil) karena beliau tahu ibu saya pasti tidak bikin masakan ini, saya sangat suka dengan kedua makanan itu. Sebaliknya ibu akan memberikan Sate Pusut (sate lilit) ikan laut dan olahan laut lainya karena beliau pasti juga tidak bikin. Hal ini memberikan pelajaran yang besar buat saya, bahwasanya berbagi itu sangat indah. Di lingkungan keluarga kecil saya Ngejot bukanlah tradisi yang hanya ada pada saat Galungan melainkan hari-hari biasapun selalu ada dan ini terjadi dikampung halaman tercinta, di Banjar Pengalon dan tradisi berbagi ini hampir selalu ada di seluruh wilayah Bali, bahkan mungkin diseluruh Indonesia walau mungkin mempunyai bentuk berbeda sesuai dengan daerah dan adat istiadat yang berlaku di tempat tersebut.

Di hari Penampahan Galungan ini, hari dimana masyarakat Hindu di Bali umumnya akan melakukan potong kurban yakni memotong babi atau ayam selain untuk Ngelawar juga merupakan untuk upacara Galungan besok. Di saat saudara-saudara saya sedang sibuk di kampung, saya malah sibuk sendiri kejar setoran ngedit kerjaan kemarin yang harus kelar pada Manis Galungan, hikkk… Dan sempat-sempatnya saya menulis ini di blog😀
Hari ini saya pikir saya tidak akan dapat menikmati kenikmatan Lawar dan kawan-kawanya namun, setelah berkicau di Twitter, bikin status di FB dan BBM tiba-tiba saja ada BBM masuk dari seorang teman bernama Tudick mengajak saya untuk datang ke rumahnya untuk bisa menikmati Lawar hasil olahan ibunya, beruntungnya saya masih bisa menikmati Lawar, hehehe…
Terakhir izinkan saya menyampaikan ini, Nyangre Rahajeng Galungan semeton jagat Bali, dumogi ngemolihang rahayu irage sareng sami, awigenam astu. Kerjaan ngedit foto kejar tayang masih tersisa sedikit lagi, mari lanjutkan saudara-saudara😀

2 thoughts on “Penampahan Galungan, Ngelawar dan Tradisi Ngejot

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s