Menyelusuri Lorong Demi Lorong Istana Taman Sari

Baru saja kami memarkir sepeda motor di halaman depan situs budaya Istana Taman Sari tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya, saya putuskan untuk berteduh sambil memesan segelas kopi disebuah warung kecil yang terletak persis didepan areal parkir dan sambil melahap beberapa kue manis serta gorengan buat menganjal perut yang sedikit keroncongan disiang itu. Bulan Januari merupakan bulan dimana negara kita masih dikuasi oleh musim penghujan, mungkin saya memang salah memilih waktu untuk berlibur tapi apa daya saya, karena kebetulan bulan ini memang lagi bener-bener free alias tidak ada assignment, maklum photographer wedding yang biasanya awal-awal tahun seperti ini memang lagi jobless. *curcol*
Istana Taman Sari ini memang menjadi salah satu tempat wajib untuk dikunjungi oleh para traveler, lokasinya masih terhitung di tengah kota dan lumayan dekat dengan jalan Malioboro, situs budaya yang sangat menarik.

Salah satu lorong penghubung kawasan pemandian keluarga raja dengan bangunan lain disisi sebelah barat.


Setelah hujan mereda barulah kaki ini saya langkahkan ke dalam Istana Taman Sari, ini kali kedua saya mengunjungi tempat ini, secara keseluruhan bangunan taman tidak mengalami perubahan kecuali di depan sisi utara areal istana dekat pintu masuk sedang ada pembangunan, tampak beberapa pekerja sibuk memasang batu bata untuk menutupi halaman sementara yang lainya sedang mengerjakan pekerjaan lainya.
Hampir diseluruh situs cagar budaya selalu ada orang yang mangkal menjadi penyedia jasa pemandu wisata, termasuk di tempat ini. Pada kali pertama kunjungan saya kesini bersama 6 teman, saya terpaksa memakai jasa salah satu dari mereka karena waktu itu secara tidak diminta mereka mengikuti kami sambil menjelaskan semua bagian tempat dengan sejarahnya walaupun sebenarnya mereka mau dibayar dengan suka rela, ya lumayan sama-sama menguntungkan sih. Persis di depan pintu pertama saya ditawari oleh seorang pemandu yang langsung saya tolak karena saya sudah sedikit tahu sejarahnya, hehehe.
Taman ini sangat menarik walau saya sama sekali tidak menemukan kebun bunga atau semacamnya yang bisanya identik dengan kata “taman”, karena taman ini hanyalah taman air (water castle) yang sebenarnya saat ini hanya tersisa sedikit bagian saja, malah tak lebih dari 2 hektar. Bayangkan pada awalnya yang konon luasnya lebih dari 10 hektar. Adapun bagian-bagian yang secara umum bisa dikunjungi adalah tempat pemandian raja beserta keluarganya, Gedong Kenongo yang merupakan bangunan bertingkat namun sekarang hanya tersisa sedikit puing-puingnya kemudian ada Masjid bawah tanah dan terakhir sebuah lorong penghubung bawah tanah yang ternyata malah sejuk bukanya penggap seperti bangunan bawah tanah pada umumnya, mungkin karena dikerjakan dengan sangat baik dengan ventilasi udara yang sangat bagus oleh sang arsitek dari Portugis bernama Demang Tegis. Berterima kasihlah kita karena buah pikiranya telah meninggalkan situs budaya yang indah bergaya mix Jawa-Eropa ini. Enjoy…

Jalan Ngasem pintu utama untuk masuk kedalam Istana Taman Sari


Bangunan tampak depan istana, sayang sekali kabel yang melintasi banunan sangat menggangu, menghilangkan kesan indah bangunan.😦


Dipintu masuk Pemandian raja dan keluarganya sudah di tunggui beberapa orang pemandu yang siap di order untuk diminta penjelasan mengenai situs budaya ini.


Tangga yang berlorong menuju areal pemandian keluarga raja


Kolam Pemandian Umbul Binangun, pemandian pertama untuk para selir raja.


Tempat pemandian yang katanya untuk sang raja seorang dari tempat saya motret ini merupakan bangunan yang memiliki tangga keatas bangunan.


View dari bangunan pintu masuk tempat pemandian.


Salah satu bagian dari bangunan tembok sebagai pembatas view di luar istana dan ke dalam taman pemandian.


Tangga keatas menuju sisi gapura bangunan sebelah barat yang ternyata tertutup.


Di areal ini anda bisa menemukan sepasang suami istri yang menjadi pengerajin wayang dan batik.


Pak Geong sedang membuat wayang sementara sang istri sibuk membatik, rumah mereka jadikan tempat art shop kecil menjual lukisan dll.


Lorong penghubung menuju bangunan disisi sebelah barat.


Situs budaya seperti ini malah menjadi ajang corat-coret tangan-tangan usil dan menjadi tempat bermain bola anak-anak kecil.


Malahan jadi spot favorite buat orang pacaran. *mau kata apa*


Katanya dari bangunan ini kita bisa melihat jalan Malioboro dari atas tapi walaupun sudah ada larangan seperti dipapan paling kiri saya masih menemukan beberapa orang yang duduk santai di atas bangunan, payah.


Komplek masjid bawah tana, persis diatas empat arah tangga merukapan tempat ulama mengumandangkan sholat.


Salah satu lorong bagian areal masjid bawah tanah yang menjadi tempat duduk-duduk, koq ga ada petugas ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s