Melestarikan Tradisi Rare Angon

Hmmm…. Rare Angon? Iya, Rare Angon. Rare Angon adalah sebuah istilah yang di pergunakan masyarakat Bali pada umumnya kepada para pemain layang-layang, terkadang di artikan  juga sebagai “seorang pengembala” dan dalam kepercayaan Hindu di Bali Rare Angon adalah Dewa-nya anak-anak. Rare angon adalah sebuah tradisi lama dan untuk melestarikanya di cetuskanlah event tahunan Festival Layang-Layang yang kini kian banyak saja perlombaanya digelar terutama bulan-bulan dimana cuaca berangin kencang. Salah satunya adalah festival yang digelar di Pantai Padang Galak.

Seorang juri sedang mengamati layangan Bebean, kira-kira menang yang mana ya?

Ini Kali ke 33 Festival Lomba Layang-Layang di Pantai Padang Galak di gelar, acara yang berlangsung dari tanggal 29-31 Juli 2011. Lomba layang-layang yang selalu ramai peserta ini memiliki dua katagori yakni katagori kreasi dan katagori tradisional. Ribuan peserta lomba yang kebanyakan bergrup datang dari segala penjuru Bali.

Kedatangan saya di hari ketiga dan sudah siang akhirnya menyisakan beberapa layangan tradisonal di langit Padang Galak, seperti layangan Bebean, Pecuk dan Jangan karena layangan kreasi sudah di lombakan lebih awal. Langit yang mendung membuat mood saya turun siang itu, bagaimana tidak, warna-warni layangan seolah tenggelam dalam hamparan mendung. Lahan yang di pakai adalah lahan sawah yang sengaja di keringkan petani untuk event ini, ribuan penonton, angin yang kencang dan terkadang beberapa peserta mengejar layangan raksasa mereka jika mengalami gagal terbang akan menghasilkan debu yang berterbangan, dinikmati saja, hehehe…

Yang bikin unik lomba ini adalah peserta lomba yang rata-rata memakai pakaian adat bali madya, setiap grup membawa sekehe gong sebagai penyemangat anggota, setiap grup minimal beranggotakan 25 orang. Ukuran layangan rata-rata 3 meteran, namun pada layangan tradisonal berjenis Jangan ekor layangan Jangan bisa sampai puluhan meter, luar biasa bukan?  Bukan hanya sebagai hiburan atau menjaga tradisi, lomba layang-layang semacam ini juga di perlukan kerja sama ( Gotong royong) yang kuat mulai dari pembuatan layang-layang hingga menaikan dan menjaga sang layangan agar tetap bisa terbang dengan sempurna dan itu sangat tidak mudah. Setelah ini, dalam waktu dekat akan ada lagi Sanur International Kite Festival dan  Tanah Lot Kites Festival. Bali selalu memiliki tradisi yang kuat dan juga indah, bangganya saya jadi orang Bali.

Panjangnya ekor dari beberapa layangan Jangan.

Dua orang Rare Angon sedang menarik ulur layanganya supaya tetap bisa melayng dengan baik di langit.

Setiap grup peserta punya panji-panji tersendiri, inilah beberapa di antaranya.

Lomba layang-layang ini tak hanya milik orang dewasa, anak-anakpun ingin menikmati hiburan yang sangat menarik ini.

Sebuah layangan Bebean sedang berusaha di turunkan karena waktu lomba untuk sejenisnya sudah usai.

Layangan Pecukan siap di naikan…

Salah satu layangan Pecukan sedang berusaha di naikan dilangit yang mulai berwarna biru.

One thought on “Melestarikan Tradisi Rare Angon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s