Menggantungkan Hidup Pada Rumput Laut

Alarm pagi itu belum berbunyi tapi suara panggilan teman membangunkan saya lebih awal dari rencana, jadilah saya berangkat jam 5 subuh menuju pantai sebelah utara dari Pulau Nusa Lembongan. “Semoga pagi ini cerah” kata saya dalam hati, menancap motor matic sewaan menuju lokasi yang sudah disepakati kemarin. Pantai yang saya tuju memang memiliki jarak yang tak terlalu jauh dari tempat saya menginap tapi dinginya cuaca subuh itu lumayan bikin menggigil sementara matahari belum juga nampak bersinar. Setelah sempat melakukan slow speed photo landscape badan mulai terasa hangat, alam bersahabat pagi ini.

Semua petani rumput laut pagi itu nampak sangat sibuk, sebagian memanen di laut dan sebagian yang lainya sedang membuka hamparan plastik yang menutupi rumput laut basah untuk dikeringkan di pesisir dan pekarangan rumah mereka masing-masing. Tak terkecuali Bapak Made Warta, pria yang berusia 40 tahun ini sedang megorek-ngorek hasil panen rumput lautnya dengan menggunakan sejenis cangkul berbahan kayu sementara sang istri Ni Wayan Yasih yang 11 tahun ini sudah dinikahinya sibuk menebar rumput laut di sisi lain.

Selamat pagi para pengejar mimpi.

Itulah salah satu keseharian sepasang suami istri yang mengontrak pekarangan kecil di Pulau Nusa Lembongan ini, laut yang di garapnya tak begitu luas, namun sekali panen mereka bisa menghasilakn rumput laut kering seberat 1 ton dan saat ini perkilo rumput laut menyentuh harga Rp.1.250 katanya. Untuk layak dijual rumput laut memang harus kering dulu dan untuk menggeringkanya dibutuhkan minimal waktu selama dua sampai tiga hari tergantung kondisi cuaca. Perbulan mereka harus membayar sewa kontrak tanah tempat mereka bermukim sebesar 15 ribu, sepetak tanah yang dibanguninya gubug sederhana, beratap anyaman daun kelapa dan beberapa lembar asbes, temboknyapun terbuat dari anyaman bambu serta merta dinginnya angin laut dengan sangat leluasa bisa masuk.

Sejak berumur 17 tahun bapak dua putra ini sudah melakukan pekerjaannya dan sekarang sudah dua puluh lima tahun menjadi seorang petani rumput laut, dengan melakoni pekerjaanya selama itu saya rasa beliau sudah sangat paham dengan detail segala halnya. Sejatinya mereka asli dari pulau Nusa Penida atau mereka menyebutnya nusa gede, pulau terbesar dari tiga pulau bagian Nusa Penida. Putra pertamanya sekarang kelas 6 SD sementara yang paling kecil menginjak kelas 3 SD dan keduanya di titipkan ke kakek-nenek mereka di Nusa Penida. Bekerja keras bersama istri walau jauh dari anak-anak tapi mereka yakin kedua anak mereka bisa bahagia dalam lingkungan keluarga besar mereka di seberang pulau. Tak hanya sebagai petani rumput laut waktu yang kosong disiang hari Pak Made gunakan menjadi kuli bangunan di sebuah villa yang sedang dibangun oleh investor di pulau Lembongan, sungguh lelaki yang gigih.

Akhirnya perkenalan yang sebentar dan sangat menarik ini di akhiri, dia minta izin untuk kembali ke gubug, sempat mengajak saya kedalam dan mempersilakan saya untuk sarapan. Usai sarapan dan gosok gigi dia pamit untuk berangkat nguli ke villa dengan memacu sepeda kumbangnya. Sementara itu sang istri masih sibuk dengan hamparan rumput laut yang sedang dijemurnya, sayapun bergegas menjelajahi pulau nan exotik ini, saatnya berpetualang kawan…

Sang istri sibuk menebarkan rumput laut agar tersiram matahri dengan merata.

Bekerja bersama istri tercinta.

Sang istri yang sudah menemaninya selama 11 tahun.

Sambil bekerja dia menyempatkan bercerita tentang kedua anaknya yang bersekolah diseberang pulau.

Setalah aktivitas rutin ini dia akan segera menjadi kuli bangunan untuk menambah penghasilan.

Cuci muka dan gosok gigi sebelum berangkat kerja menjadi kuli bangunan.

3 thoughts on “Menggantungkan Hidup Pada Rumput Laut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s