Cerita Mini Sore Itu di Pantai Tibubiyu

Tak dinyana akhirnya sore itu saya telah melangkahkan kaki di sebuah pantai yang sangat sepi, di desa yang hampir sebagian wilayahnya merupakan hamparan sawah di mana padinya akan segera menguning. Pantai desa Tibubiyu, Kerambitan, dari dulu Tabanan memang terkenal menjadi lumbungnya padi bagi tanah Bali tercinta ini. Setelah seharian menyusuri jalan-jalan kecil yang kebanyakan justru  berujung di pantai-pantai yang sebelumnya tak pernah saya lalui.

Pantai yang pasirnya ber-volume padat, berwarna abu-abu dan halus, tipikal pasir yang bisa dilalui kendaraan tanpa membuat ban kendaraan tenggelam ditelan pasir. Di sebelah barat di sebuah aliran sungai kecil yang menuju kelaut saya melihat sesosok ayah dan anak sedang mengais pasir dengan sebuah sabit kecil yang biasanya mereka pergunakan untuk mencari rumput. I Wayan Subadi bersama anaknya Andika sedang asik mencari Lemusud sebutan dalam bahasa Bali untuk belut laut.

Sejauh ini saya tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan, hingga sapaan sesaat menceritakan semuanya.

Menurut penuturan Pak Wayan, belut laut ini hanya bisa dijumpai pada musim dingin seperti saat ini. Tak habis pikir saya bertanya kenapa belut itu bisa terdampar di pasir dengan aliran sungai seperti itu, ternyata menurut beliau di karenakan lemusud tersebut mengejar ikan teri (disebut Ipun dalam basa Bali) yang biasanya ada di perairan dangkal di sekitar pantai. Mengejar mangsa, itulah teori yang paling singkat untuk dapat menjelaskan keberadaan belut-belut itu hingga berada di pantai, masuk diakal walau saya belum tahu pasti apakah memang itu penyebabnya. “Lemesud niki biasane ilang yen sampun tilem, kudyang gen jaan tapi pepesan megoreng” Katanya, belut laut ini akan menghilang setelah bulan mati, mau dimasak apa saja enak tapi seringan digoreng.

Terlihat dari mimiknya, Andika yang masih kelas lima SD itu sedikit sewot dengan kehadiran saya, dia lebih senang melihat ayahnya mencari belut laut ketimbang berhenti hanya untuk bisa ngobrol dengan saya. Mengingat mereka hanya baru bisa mengumpulkan beberapa ekor saja, alangkah baiknya saya membiarkan mereka sibuk dengan aktifitas yang mereka lakukan tidak setiap hari ini. Saya sudahi obrolan dengan menyulut sebatang rokok kemudian menghabiskannya hingga matahari menghilang di horizon.

Sabit adalah satu-satunya alat yang mereka gunakan untuk mencari belut laut.

Sang ayah sibuk mencari-cari belut dan Andika dengan telaten mengamatinya.

Andika dengan sabarnya menunggu aba-aba dari sang ayah jika belut-belut itu tertangkap.

Kiri, Andika mencoba mencari sendiri. Kanan, Dia menujukan salah satu hasil tangkapannya.

Meraka berlalu pindah ke bagian sisi timur pantai, keakraban ayah dan anak pada umumnya, mengingatkan masa kecilku di kampung sebagai anak nelayan, indah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s