Menengok Batik di Laweyan

Mendengar kata Laweyan kita pasti langsung ingat akan Batik. Kampung Laweyan merupakan kampung wisata khususnya wisata Batik, terkenal sebagai sentra industri batik yang memiliki corak unik dan spesifik di samping itu merupakan kampung yang memang memiliki sejarah tersendiri. Namun kali ini saya tidak membahas sejarah dan latar belakang terbentuknya Kampung Laweyan akan tetapi proses pembuatan batik itu sendiri, batik yang menjadi hasil budaya bangsa, budaya yang sudah seharusnya kita jaga dan banggakan.

Selamat datang di Kampung Laweyan.

Semua pasti sudah tahu bahwa batik telah ditetapkan oleh United Nations Educational, Scientific, and Culture Organization (UNESCO) sebagai hasil arts culture milik bangsa Indonesia. Pengakuan resmi dari UNESCO ini telah dilakukan pada tanggal 28 September 2009 dan penghargaan resminya pada tanggal 2 Oktober 2009 di Abu Dhabi. Sehingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyambut baik serta meminta seluruh warga negara Indonesia mengenakan batik pada 2 Oktober 2009. Semenjak itu pemakaian batik menjadi sebuah keharusan di kantor atau di instansi-instansi pemerintah dan di sekolah-sekolah, umumnya di pakai setiap hari jumat atau sabtu.

Tahukah kalian proses membatik itu seperti apa? Baju yang indah itu memiliki beberapa tahapan proses sebelum dia menjadi sebuah Batik yang indah. Ok, mari saya jelaskan beberapa proses membati, ada pun urutan prosesnya sebagai berikut;
Nyorek merupakan istilah urutan proses paling pertama, kurang lebih proses mensketsa atau menggambar motif batik diatas sebuah media kain bisa juga sutra.
Nyanting disebut juga Mbatik adalah proses membatik itu sendiri dimana pada pengerjaanya menggunakan alat bernama Canting, berisi ciaran lilin gunanya melapisi motif yang diinginkan. Tujuannya adalah supaya saat pencelupan bahan kedalam larutan pewarna, bagian yang dilapisi lilin tidak terkena bahan pewarna.
Nembok atau Nerusi adalah tak lebih dari proses Nyanting ke dua, menutup bidang yang mempunyai ukuran besar atau bidang rata berupa blok-blok yang tetap masih memakai Canting.
Kemudian adalah proses Ngelir, proses pencelupan dalam larutan pewarna (pewarnaan), bila lilin sudah dirasa cukup kering maka proses inilah yang akan dilakukan kemudian.
Nglorot adalah proses melepaskan malam yang menempel di kain pada proses membatik (Nyanting) sebelumnya, dilakukan dengan cara memasukan kain yang masih ada malamnya kedalam bak pencucian yang berisi air panas. Sehingga motif yang telah di gambar sebelumnya terlihat lebih jelas.
Mepe adalah proses penjemuran atau pengeringan batik, merupakan proses yang paling terakhir.
Hasil dari semua proses tersebut di atas akan adalah apa yang disebut dengan kain Batik Tulis. Penaman tersebut di berikan karena selain Batik Tulis ada juga Batik Cap, Batik Printing, Batik Painting dan Sablon.

Berjam-jam mengikuti proses demi proses Mbatik sembari menyelusuri setiap jalan-jalan kecil di Kampung Laweyan tak terasa matahari sudah semakin terik saja. Sebuah traveling pengenalan budaya batik yang sangat singkat, kaki ini saya jalankan menuju kesebuah tempat kuliner dengan menu makanan khas Kota Solo-nya. Simak postingan tentang lokasi kuliner di Solo saya berikutnya, sementara itu enjoy photo proses Mbatik dulu…

Tak ada salahnya bila anda datang ke Kampung Laweyan untuk membaca peta dan legendanya.

Proses Nyanting.

Nyanting dan nyanting…

Setungku lilin cair di tempatkan di tengah-tengah dari beberapa penyanting, agar memudahkan mereka bekerja.

Umumnya proses nyanting kebanyakan di lakukan oleh para ibu-ibu.

Ini adalah alat berbahan kuningan untuk pengecapan dalam proses pembuatan Batik Cap

Sebaliknya pada proses Ngecapi kebanyakan di lakukan oleh para pria.

Proses penyablonan pada Batik Sablon.

Proses pemanasan pada Batik Sablon dengan menggunakan bara api yang dijalankan secara manual diulang berkali-kali hingga dirasa cukup kering.

Proses Ngelir atau pewarnaan.

Pencucian atau pembilasan kain menggunakan bak air yang cukup besar.

Beberapa proses Mepe dilakukan di luar ruangan untuk mendapatkan pengeringan yang lebih cepat.

Proses Mepe yang dilakukan di dalam ruangan dengan pencahayaan yang cukup.

Sepeda pekerja diantara tumpukan alat sablon.

9 thoughts on “Menengok Batik di Laweyan

  1. Pingback: Lezatnya Selat Solo « Art, Culture & Travel Photography – Bali Photographer

  2. numpang lewat ya. Kalau mau jalan-jalan ke medan, or kalau mau wisata kuliner di medan, jangan lupa mampir di blog indrahalim.com ya… di situs itu lengkap reviewnya tuk resto or kedai yg menyediakan makanan enak di medan.. thx!

    • Menurut saya itu bagian dari perkembangan seni batik dan salah satu faktor penyebabnya tak lain adalah tuntutan pasar. Akan tetapi yang penting Batik tetap lestari dan mari kita support pengerajin Batik dengan salah satu caranya membeli Batik sesuai dengan kesukaan anda😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s