Sore itu di Solo Balapan

Sore itu di Stasiun kereta api Solo Balapan.

Sang Surya beranjak ke peraduan ketika kaki ini melangkah masuk.
Mengejar jadwal sepur yang ternyata baru saja berlalu.
Akhirnya harus menunggu rombongan gerbong besi ini kelar di mandikan.

Sore itu di Stasiun Solo Balapan

Mata menangkap secuil keindahan usang yang dimiliki bumi.
Merangkai sejumput kenangan dan bukti-bukti mati.
Mentari kian merapatkan badan keperaduan horizon hingga tugasnya digantikan pijar-pijar kreasi anak manusia.

Sore itu di Solo Balapan

Rindu sudah bertalu walau kaki masih menyapa debunya.
Mengenang setengah hari yang sudah terlewati, iya hanya setengah hari dan setengah hari di tahun lalu.
Wajah, sapaan dan cerita yang tak mungkin pernah menjadi sama.

Pada senja, pada stasiun dan pada wajah nan melelah aku tititpkan rindu.
Esok mungkin masih ada masa atau barangkali perjodohan baru.
Ijinkan aku mengecup disetiap kerling keindahanmu lalu berpoya, agar esok aku tak tersesat menuju hatimu.

Jam dindingnya kekecilan bukan ya?

Banyak masyarakat setempat memakai stasiun kereta api sebagai tempat cuci mata.

Menunggu kereta senja

"Si hitam manis" yang banyak ngantre untuk menunggunya.

Dari mana hendak kemana?

Tempat turunnya tidak nyaman, kadang pintu keluarga tidak tepat seperti gambar ini.

Walau sudah di sediakan tempat duduk untuk menunggu banyak juga calon penumpang yang duduk disekitar tempat turunan penumpang.

Penumpang terakhir?

One thought on “Sore itu di Solo Balapan

  1. Pingback: Cerita Usang Di Dalam Kereta « Art, Culture & Travel Photography – Bali Photographer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s