Kanjeng Raden Ario Tumenggung Wirantodiningrat

Siang itu Kota Solo sangat terik, maksud hati untuk mengelilingi Keraton Solo akan tetapi kunjungan kami tidak tepat, ternyata setiap Jumat Keraton ditutup untuk umum, akhirnya kaki kami langkahkan menuju sebuah rumah nan bersahaja seperti penghuninya. Tak jauh dari jalan utama Kedunglumbu, Pasar Kliwon kaki melangkah memasuki gang yang tak begitu lebar, disambut senyum sumringah dan sapaan yang hangat dari seorang perempuan baya.

Mbah Wir, begitu saya memanggilnya, beliau menunjukan lencana semasa menjadi Pangilam di Kraton Solo dulu.

Kedatangan ini awalnya hanya untuk melepas kekangenan seorang teman kepada ayah angkatnya di Solo, seorang pria berusai 75 tahun, bersosok kurus dan tinggi, dengan pembawaan yang kalem dan tutur yang santun, keseharianya membuat kostum kerajaan Solo, pakaian kejawen sekaligus pengerajin logam. Bengkel kerjanya hanyalah loteng yang berukuran tak lebih dari 4 x 3 meter dan itupun sudah sangat penuh dijejali dengan perkakas kerja.

Kakek yang memiliki tiga cucu dari anak perempuan satu-satunya dan mungkin akan bertambah dari anak angkatnya yang berasal dari Jogja dan sedang mengunjunginya kini, hehehe…

Pernah mengabdikan hidupnya di Istana Solo selama kurang lebih 48 tahun. Dia di percaya oleh Paku Buwono XII untuk menjadi seorang komandan dari 189 prajurit kerajaan.

Masa kecilnya hanyalah seorang anak yang jarang tidur dan setiap malamnya selalu digunakan untuk mengililingi jalanan di Solo hingga akhirnya dia dijadikan Abdi Dalam di kerajaan yang dia sebut sebagai Kerajaan Surakarta bukanlah Kerajaan Solo yang lebih dikenal orang selama ini. “Selama saya mengabdi di Kerajan Surakarta tak sekalipun saya pernah di marahi atau pun di perintah oleh Sinuhun Paku Buwono XII. Beliau, pernah berkata kepada saya, “Kamu tidak saya berikan gaji tapi saya hanya punya doa untukmu, sepanjang hayatku”… Buat saya doa beliau itu adalah harta yang membuat saya bertahan hidup dan sehat selama ini, saya percaya itu!”

Lima kali menyandang gelar, Kanjeng Raden Ario Tumenggung Wiratodiningrat adalah gelar terakhirnya sebelum ditinggal wafat oleh sang raja.

Siang yang luar biasa panas itu justru membuat saya terasa sejuk setelah 4 jam pembicaraan dengan beliau dan keluarganya, mengenal sosok yang bersahaja, teduh namun agung. Sungguh pertemuan yang singkat namun memberi arti banyak buat hidup saya.

Solo mulai temaram dan dengan tergesa-gesa kami mencari taxi untuk mengejar jadwal Sepur (kereta api) menuju Jogja, hari yang sungguh luar biasa. Terima kasih banyak untuk Rachma Safitri dan Bayu Maha Putra atas jalan-jalan yang indah di Kota Solo kemarin.

Mbah Wir sedang mencari seragam di kamar tamunya.

Kancing terakhir…

Devy sang cucu tertua sedang membantunya memakai seragam sementara sang istri mengipasi dari belakang.

Akhirnya saya mendapatkan senyumanya pada foto sebelah kanan.

Bersama instri tercinta Endang Sadimi

9 thoughts on “Kanjeng Raden Ario Tumenggung Wirantodiningrat

  1. asik cerita kunjungannya, emapt tahun saya hidup di Solo, tiap tahun selalu motret beliau…akhirnya bisa “kenalan” di sini hehhe….

    foto portrainya asik🙂

    thank you.salam kenal

    fid

  2. @fitri, makin rame makin seru! ya kan fit? 😀
    @dony, makasi bro, pengen banget ke Solo untuk jalan-jalan sambil makan Selat Solo lagi, Insyaallah kalo ada rezeki lagi😀
    Sering-sering mampir ya, salam kenal dari Bali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s