Mamukur – Mapradaksina

Setelah melakukan Nganget Don Bingin (link) Prosesi selanjutnya dari Mamukur adalah Ngajum,yakni merangkai 108 lembar daun beringin hingga sedemikian rupa yang kemudian disebut Sekah yang dihias layaknya manusia dgn kain putih dan diletakan pada panggung upacara yang disebut dengan Payajnan.Prosesi selanjutnya disebut dengan Amet Toya Hening dilakukan pada pagi hari menjelang hari “H”, berupa prosesi mapeed,mengambil air jernih sebagai bahan utama Tirtha, Toya hening tersebut ditempatkan di bale Pamujan (Pawedan) di depan panggung Payajnan,kemudian dilakukan Mapinton atau Mapajati,  prosesi mapeed bagi roh yang diupacarakan  untuk mempermaklumkan kepada para dewata yang berstana pada pura-pura terdekat, terutama pura pemujaan leluhur (Kawitan).

Mapurwadaksina, yakni prosesi (mapeed) bagi puṣpasarira (dipangku oleh anak cucu keturunannya, memakai busana serba putih), dilakukan pada hari “H”, setelah upacara Mapinton, mengelilingi panggung Payajnan sebanyak 3 kali (dari arah Selatan ke arah Timur) mengikuti jejak lembu putih, yang dituntun oleh gembalanya, di atas hamparan kain putih, diiringi gamelan gambang, saron atau selonding, gong gede, kidung dan kakawin.

Nganyut Sekah ke Segara. Upacāra ini merupakan tahap terakhir dari upacara Mamukur, dapat dilakukan langsung selesai upacara Ngeseng Sekah ( Ngalanus) atau keesokan pagi harinya disebut upacara Ngirim. Setelah tiba di tepi pantai, arang/abu yang ditempatkan dalam kelungah kelapa gading dikeluarkan dan ditebarkan di tepi pantai yang didahului dengan upacara persembahan sesajen kepada Sang Hyang Baruna, sebagai dewata penguasa laut, sekaligus permohonan penyucian terhadap roh yang diupacarakan dan diakhiri dengan persembahyangan oleh keluarga.

Dewapiṭṛa Pratiṣṭha (Ngalinggihang Dewapiṭṛa/Dewapitara) Upacara ini bukan merupakan bagian dari upacara Mamukur, melainkan merupakan kelanjutan dari Mamukur itu sendiri. Upacara ini sering disebut Ngalinggihang Dewa Hyang, merupakan tradisi lebih lanjut dari mendharmakan leluhurnya pada pura Kawitan masing-masing yang dirangkai pula dengan upacara Nyagara-Gunung atau Majar-ajar kebeberapa pura di Bali.

Berikut beberapa foto yang bisa saya abadikan dari upacara Mamukur keluarga besara Bapak Wayan Sutha di Ubung,Denpasar,enjoy…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s